Tambah ilmunya, bukan koleksi jilbabnya

notestoself.jpg

Sebuah catatan untuk diri yang mulai tergoda, atau bahkan telah tergoda.

Diawal menapaki jalan perubahan, hijrah.

Mengubah gaya berpakaian, satu persatu, tahap demi tahap.

Tak menyangkal, hijab syar’i itu harganya 2-3 kali lipat dari kerudung tipis yang pernah kupakai. Tak menampik juga, perlu menyisihkan recehan dari sisa uang jajan untuk bisa membeli 1-2 kerudung syar’i saat itu.

Diawal-awal masa hijrah, wajar saat muncul keinginan untuk menambah membeli setidaknya 1 untuk ganti, karena rasanya kurang nyaman memakai kerudung yang sama setiap hari, atau harus curingke (cuci-kering-pake).

Ya, wajar rasanya saat itu.

Namun kini, setelah beberapa tahun berjalan. Alhamdulillah senang sekali rasanya melihat banyaknya yang menyediakan kerudung/jilbab yang syar’i baik di olshop maupun di toko-toko. Meski memang masih banyak yang hanya sekedar melabelkan kata syar’i dan menggunakan bahan yang lebih panjang namun nyatanya belum memenuhi kriteria hijab yang syar’i.

Semakin kesini aku mulai mengamati yang terjadi pada akhwat-akhwat hijaber, yang mungkin salah satunya adalah aku sendiri. Setelah berhijab , merasa telah syar’i, bangga dengan hijabnya. Sudah mulai kendur kajiannya. Sudah mulai lebih suka berlama-lama di dunia maya dibandingkan di taman-taman surgaNya. Lebih sering ‘mantengin’ trend warna dan gaya hijab yang baru, dibandingkan menyelami kisah-kisah Rasulullah shalaulohu’alayhi wasalam beserta para sahabat dan shahabiyah terdahulu.

Semakin kesini, model-model jijab semakin beragam. Hiasannya semakin bermacam-macam. Coraknya semakin menarik perhatian. Warnanya kian mencolok. Begitupun dengan niqab/cadar. Bahkan tak jarang dijumpai harga jilbab yang sangat melangit karena mewahnya hiasan yang ada padanya. Hilanglah sudah kesederhanaan. Beralihlah pakaian menjadi hiasan dan pakaian kebanggan.

”Barang siapa mengenakan pakaian syuhroh (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Semakin kesini, mulai goyah untuk tetap mempertahankan kesederhanaan. Mulai menggebu-gebu untuk membeli banyak koleksi hijab model terbaru. Fitrahnya wanita memang senang melihat yang indah, dan senang berbelanja. Namun, jika itu hanya untuk menambah koleksi, apakah harus? jika itu hanya untuk membuat diri kita semakin cantik, apakah perlu?

Semakin kesini, yuk semakin pertambah ilmu. Karena yang akan menyelamatkan kita bukanlah seberapa banyak koleksi hijab kita, melainkan selurus apa niatan kita untuk berhijab. Bukan seberapa tinggi kualitas pakaian kita, melainkan seberapa tinggi kualitas amalan kita. Dan setiap amalan yang berkualitas tentunya butuh ilmu untuk mencapainya selain daripada niatan kita.

catatan dan teguran untuk diri. Yang mulai lupa dan mulai tergoda.

Ukhti, tambah terus ilmunya bukan koleksi jilbabnya 🙂

 

wismaQQ 11022016 | @rositadewiha

 

Maaf, jika aku tak ‘asik’ lagi..

masalalu.jpg

Siang tadi ditengah kesibukan kami di dapur, ibuku mulai bercerita. Berkisah tak sengaja tentang respon-respon yang ibuku dapat dari teman-teman lamanya ketika bertemu dengan ibuku sekarang.

Dari obrolan itu aku makin menyadari bahwa ‘berubah’ itu bukanlah hal yang mudah. Memperbaiki diri atau kerap disebut ‘hijrah’ itu bukan sebuah perkara yang gampang, tak bisa dilalui sekejap mata, mustahil jika perjalannannya tanpa duka cita dan airmata.

Setelah obrolan itu aku jadi teringat pada diriku sendiri. Ya, dulu bahkan sampai saat ini pun masih mengalami hal yang seperti ibuku alami. Mungkin bagi orang-orang yang mengenal kita selepas hijrah, perubahan apapun pada diri kita tidak akan terlalu mencolok bagi mereka, namun bagi mereka yang mengenal kita jauh lebih dulu bahkan jauh sebelum hijrah, tentu ketika bertemu lagi dengan mereka akan menjadi suatu hal yang aneh. Bahkan tak jarang ejekan, dan guyonan-guyonan terutama atas apa yang kita rubah dari penampilan selepas hijrah.

“Disitulah tantangannya..”

“Disitulah ujiannya..” begitulah ibuku mengakhiri pembicaraan kami.

Aku jadi teringat kembali respon-respon kawan-kawan lamaku. Ada yang terdiam, terkejut, heboh sendiri, dan berbagai respon yang sudah mulai aku anggap biasa. Apalagi ketika awal-awal mencoba untuk merubah kebiasaan lama. Saat mulai mengganti semua pakaian, mulai menutupi apa yang seharusnya ditutupi. Mulai menghindari lawan jenis, memberi jarak dan batas dengan mereka. Mulai ‘memberanikan diri’ tidak bersalaman dengan lelaki yang bukan mahram. Mulai mengganti kebiasaan-kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih bermanfaat.

Tak jarang ada respon yang mengatakan bahwa aku sudah tak asik lagi. Sudah tak mau nongkrong, dance, bermain music sambil nyanyi-nyanyi bareng,   ngeceng sana-sini, berpose, ‘menghabisi’ teman yang ulang tahun, merayakan ulang tahun, bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun meskipun dengan kata lain semacam “Barakallahu fii umrik”.

Ya, maafkan aku kawan. Aku sudah tak se-asik dulu lagi.

Aku sudah tak se-asik apa yang kalian masih anggap ‘asik’

Karena apa yang aku anggap ‘asik’ dulu, tak pernah benar-benar asik

Semuanya hanyalah kesenangan yang semu

Hanyalah kebahagiaan yang sejatinya merupakan hal yang begitu amat disesalkan pernah dilakukan

 

Teruntuk semua sahabatku, mari temaniku.

Kita saling menguatkan kembali, kita saling menyemangati kembali.

di jalan yang lebih Allah Subhanahuwata’ala ridhoi 🙂

 

Salam.

Rumah, 2 Januari 2015 | © rositadewiha

Tak ingin mencintai dalam ‘Diam’

Flirty-Fleurs-Red-Rose-Color-Study.jpg

Aku selalu bertanya pada diri, apa yang akan aku lakukan jika aku jatuh cinta?

Jatuh cinta?

Ya, tepatnya menjatuhkan cinta padamu.

Kamu, iya kamu ! Kamu yang aku pun tak tahu siapa.

 

Bagiku jatuh cinta itu adalah sunatullah.

Fitrahnya kita sebagai manusia.

Hadirnya tanpa ada rencana, disadari ketika ia mulai mengusik ketenangan jiwa.

Apakah kamu merasakan yang sama?

 

Jika aku jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta itu sebagai hal yang wajar

Bukan suatu hal yang perlu dibesar-besarkan

Apalagi untuk disebar-sebarkan

Jika sama-sama siap halalkan, jika tidak maka lepaskan.

 

Ketika sebagian orang mengenalkanku pada istilah cinta dalam diam

Rasanya aku tak ingin mencintai dalam diam, tak ingin terjebak istilah cinta dalam diam jika itu hanya akan membawaku pada ketidakridhaanNya.

Bagi sebagian orang, istilah mencintai dalam diam itu keren.

Mencintai tanpa diketahui oleh orang yang ia cintai, dipendam dalam-dalam.

Bahkan sebagian mengutarakan bahwa cinta dalam diam yang mereka anut itu hasil dari meneladani kisah cinta sayidah Fatimah dengan sayidina Ali Radhiyallahuanhuma.

Ya, mencintai dalam diam dengan berbagai versi tergantung sampai titik mana seseorang faham akan hal itu.

Namun lambat laun jika diperhatikan, cinta dalam diam yang sebagian orang utarakan itu tak  sejalan bahkan bertolak belakang dengan apa yang dijalani oleh putri dan menantu sekaligus sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Sebagian orang yang menyatakan pada dirinya sebagai aktivis ‘cinta dalam diam’ , menurutku hanya meminjam istilah itu saja, sedangkan dalam praktiknya cinta dalam diam yang ia jalankan memang benar-benar diam !!

Ya, diam-diam ngestalking akun sosial media si dia ( orang yang disuka)

Diam-diam mengisi waktu luangnya dengan khayalan dan lamunan tentang si dia.

Diam – diam mencari tahu berbagai hal tentang si dia.

Diam- diam cari cara untuk ketemu sama si dia.

Diam-diam mulai menyimpan kontak si dia.

Diam – diam mulai semakin menggila dengan cintanya.

 

Ya, jika dilihat dari caranya  memang tengah mencintai dalam diam.

Berusaha agar orang yang disuka tak tahu atas perasaannya.

Berusaha menahan luapan perasaannya dan menjaganya agar tidak pacaran

Namun, dengan disadari atau tidak ia pun diam- diam tengah menumpuk dosa !

Sadarkah kita?

 

“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua tangan adalah dengan menggenggam, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berandai-andai, dan kemaluan mempraktekkan keinginan untuk berzina itu atau menolaknya”. [Muttafaqun ‘alaih]

 

Maka, tak ada pilihan lain jika kita jatuh cinta : Halalkan , jika tidak maka lupakan !!

Belum pernah terlihat, ada obat yg lebih mujarab bagi dua orang yg sedang jatuh cinta, selain menikah.” – Thabrani

 

Cimahi,28 Desember 2015 | © rositadewiha

 

 

Mungkinkah Allah tengah Rindu ?

12360009_981488045245239_9055123166555021858_nPermasalahan demi permasalahan datang silih berganti. Ujian demi ujian semakin sering menghampiri. Cobaan dan godaan pun, mereka datang tanpa permisi.

Ketika mata sudah lelah karena terus terjaga. Air mata yang keluar seakan tak ada hentinya. Sesak dan pilu memenuhi rongga dada. Langit yang biasa dipandang luas seakan menyempit, dan keramaian yang ada berubah menjadi kesunyian.

Mungkinkah Allah tengah rindu?

Ketika sifat keterbukaan berubah menjadi tertutup. Pintu yang selalu terbuka dan menyambut siapa saja yang masuk menjadi terus terkunci. Benteng-benteng mulai dibangun meninggi. Seorang diri, sunyi, menyendiri, menutup diri.

Mungkinkah Allah tengah rindu?

Ya, rindu akan tangisan kita. Rindu akan ratapan dan penyesalan kita. Rindu pada kita yang mungkin sudah lama tak bercerita pada-Nya, sudah mulai lalai dari mengingat-Nya.

Mungkinkah Allah tengah rindu?

Rindu atas segala tumpahan kegelisahan kita. Rindu rengekan kita saat meminta. Rindu karena mungkin sudah sejak lama kita tak pernah lagi menyempatkan untuk berdua saja, berkhalwat dengan-Nya di setiap sepertiga malam.

Inilah cara Allah memperingatkan diri yang tengah lalai. Inilah cara Allah menguatkan diri yang mulai kendur. Inilah cara Allah menegur, mengajak untuk kembali sebelum terlalu jauh.Terjatuh dan tersungkur.

wismaqq, Desember 2015 | rositadewiha

Nasehat untukku untukmu

Seringkali kudengar bahwa nikmat setelah iman itu ialah memiliki sahabat-sahabat yang peduli. Ups lebih tepatnya tak sekedar peduli namun senantiasa mengingatkan kita pada Allah, merangkul kita untuk bisa menapaki jalanNya, dan senantiasa menguatkan kita untuk istiqamah dalam menapakinya.

Dan Alhamdulillahiladzi bini’mattihi tatimusshalihat Allah mengirimkan mereka-mereka yang peduli dan kuanggap sebagai sahabat. Mereka, ya aku menyebuutnya mereka karena aku merasa mmiliki sahabat yang tak terhingga. Orang bilang sahabat itu yang telah lama kita kenal dan bersama-sama dengan kita dalam waktu yang cukup lama. Namun bagiku siapapun yang berani mengingatkanku, menegurku dan mengajakku pada kebaiakn ialah sahabatku. Karena merekalah yang telah mau meluangkan waktunya untuk itu. Dan yang pasti mereka itu peduli. Sahabat bagiku banyak.Mungkin termasuk kamu yang tengah membaca ini. ^_^

Teruntukmu sahabatku. Terimakasih telah mencintaiku. Terimakasih telah mau mengingatkanku, menegurku dan mengajakku pada kebaikan meninggalkan semua kesia-siaan.

Ya, mungkin semua pun sepakat bahwa hidayah itu memang datangnya dari Allah. Hidayah itu memang kita yang mencarinya, meminta dan memohon padaNya. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa ada orang-orang yang Allah pilih untuk menunjuki kita mencapai hidayah itu. Dan mereka itulah yang kusebut sebagai sahabat hadiah dari Allah.

Dari beberapa obrolan dengan sahabat-sahabatku, tak jarang kudapati kisah hijrah yang berawal dari mengenal seseorang. Seseorang itu bisa teman,guru,saudara, atau bahkan oranglain yang baru ditemui. Berbagai macam kisah memang. Namun intinya semua sama, Allah megirimkan orang-orang itu untuk mengarahkan kita pada hidayah yang tengah kita cari.

Untuk kalian yang pernah Allah kirimkan untuk membantu proses hijrah seseorang . Kali ini ijinkanku (yang pernah kalian bantu, nasehati, tegur maupun kalian ajak pada kebaikan) untuk membalas kebaikan kalian semampuku lewat tulisan ini.

Dulu kalian telah menyempatkan banyak waktu kalian untuk sekedar menegur ataupun mengingatkanku ketika lupa. Kini ijinkan aku membalas semua kebaikan itu.

Sahabatku. Mungkin kita sudah bosan dengan nasehat para asatidz mengenai dua perkara yang kuketahui lewat kebaikanmu. Ya, perkara itu ialah tentang hubungan interaksi dan perilaku kita dalam ber-sosial media.

Sahabatku. Darimulah aku tahu bahwa tak ada hubungan cinta yang diridhoi antara sepasang insan selain pernikahan. Melaluimu Allah menegurku untuk senantiasa menjaga interaksiku dengan lawan jenis dan semua orang yang bukan mahramku. Dirimu pula lah yang senantiasa mengingatkan dan menguatkan untuk tak menceburkan diri ke dalam lautan asmara yang tak dibenarkan dalam ajaranNya bahkan tak diakui oleh negara (baca : pacaran).

Sahabatku. Teguranmu itu sungguh mempan. Nasehatmu terasa masih terngiang saat aku masih sering mengupload potretku. Kini semua wajahku telah aku usahakan untuk sirna dari semua sudut dunia maya. Aku pun tengah berusaha untuk tidak mengupload meskipun tampak belakang, sekedar kaki,tangan, atau anggota badan yang lainnya. Keberanian itu tumbuh setelah engkau menceritakan tentang bagaimana bahayanya dan apa saja mudharatnya ketika aku masih mengunggah foto-foto diriku di sosial media.

Aku sungguh berterimakasih pada Allah karena telah menghadirkanmu dalam masa perbaikan ini. Namun, beberapa waktu berlalu aku mendapati sebagian dari kalian mulai bangga dengan status yang tak pernah diakui negara sekalipun itu. Komentar-komentar kalian begitu asyik. Status kalian bak bunga yang banyak dihinggapi para kumbang. Dan mulai kutemui potretmu di beberapa sudut dunia maya, tempat yang sempat kau ingatkan padaku penuh dengan mudharatnya jika wajahku terpampang apalagi berseliweran di sana.

Ah, sahabatku. Memang mudah mengingatkan oranglain. Mudah memang menasehati oranglain. Mudah sungguh mudah sekali mengintropeksi oranglain. Sedangkan mengintropeksi diri itu sulit. Sungguh sulit kala nafsu terus menerus mengelabui. Begitupun denganku saat ini yang mungkin tengah berniat mengingatkan diriku pula namun secara tak sadar aku tengah mengintropeksi dirimu, bukan hanya mengintropeksi diriku sendiri lagi. Namun semoga ini bisa menjadi nasehat untukku, untukmu dan untuk kita semua siapapun yang membaca tulisan ini.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS.Al-Asr [103]: 1-3)

Nasehat. Sebuah hal yang tak sedikit orang enggan mendengarnya. Dan tak sedikit pula yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Kita mungkin akan dengan mudahnya menasehati oranglain. Ya, berbagai macam bentuk retorika terlontar dari lisan kita dengan lancarnya. Memberikan teguran lantas menasehati oranglain atas sikap,perkataan atau apapun yang kita ketahui bahwa itu tidak dibenarkan,salah,keliru apalagi ketika hal itu bertentangan dengan syariat.

Namun terkadang ada yang kita lupakan. Baik ketika kita diposisi yang dinasehati ataupun sebagai penasehat.

Saat kita tengah dinasehati terkadang nafsu mendorong kita untuk berkata “Apa sih, sok suci, kayak udah bener aja sendirinya…bla..bla..bla”. Ssstt meskipun hanya terlintas dipikiran dan tak kita utarakan, hati-hati nih jangan-jangan kita sudah menjadi orang yang merasa sudah baik dan tak perlu lagi dinasehati oranglain. Pada kondisi seperti itu, iyakah kita sudah benar-benar menjadi orang yang lebih baik? Ataukah mungkin sifat sombong telah merajai hati hingga tak bisa menerima kebaikan? Naudzubillah.

Sedangkan, saat kita melihat oranglain salah (menurut pandangan kita). Jangan serta merta menjudge ia salah dan menasehatinya di depan khalayak umum. Meskipun di sosial media, itu kan sama halnya dengan di depan publik. Hati-hati yuk, jika kita menasehati di depan umum itu sejatinya bukan menasehati melainkan mempermalukan orang yang hendak kita beri tahu atau ingatkan atas kehilafannya.

Saling menasehati itu ternyata penting dan harus ya, karena rasanya kita tak akan mudah memperbaiki diri kita tanpa kritik atau nasehat dari orang lain. Namun dalam menasehati pun kita perlu ingat selalu, bahwa nasehat itu bukan hanya untuk oranglain melainkan untuk kita pribadi. Jangan sampai kita menasehati dan mengajak oranglain pada kebaikan namun kita sendiri tak melaksanakan apa yang kita nasehatkan.

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Maka jangan lelah untuk saling bertukar kebaikan dengan cara saling mengingatkan untuk kebaikan ^_^

Pondok Khadijah, 21 Dzulqa’dah 1436 H

Rasanya terasing dan dicerca ?

Berawal dari beberapa pertanyaan  seorang sahabat yang terasa seperti seorang kakak tempo hari.

“Bagaimana rasanya menjadi asing?”

“Bagaimana rasanya menggenggam bara api?”

“Omongan apa saja yang oranglain katakan yang membuatmu sakit hati?”

(Kurang lebih seperti itulah pertanyaan pembuka obrolan singkat kami sore itu.Afwan jika salah, itu seingat saya ^^)

Mendapatkan pertanyaan seperti  itu jujur membuat saya bertanya pada diri sendiri. Bertanya tentang perasaan saya selama ini. Setahun ini memang saya merasa asing di kampus, paling ‘beda’ sendiri dan kerap mendapat ucapan yang kurang mengenakan hanya karena sehelai kain yang menutupi sebagian wajah saya. Namun  saya merasa belum merasakan betul bagaimana sulitnya menggenggam bara api atau menjadi seorang al-ghuroba itu. Karena Alhamdulillah Allah telah memberi saya kemudahan, dosen-dosen dan pegawai di fakultas maupun teman-teman tidak mempermasalahkan keputusan saya itu dan tidak melarangnya seperti beberapa jurusan lain. Sebuah nikmat yang patut disyukuri.

Jika soal omongan oranglain yang tidak mengenakan. Hmmm rasanya saya sudah mulai ‘kebal’ dengan itu hehe entah karena saya orangnya sedikit cuek atau apalah yang pasti saya selalu teringat nasehat dari salah satu ceramah singkat ustadz Firanda Hafidzahullah yang berjudul “Anda sudah gila,jika..” .

Dalam video ceramah singkat tersebut beliau mengatakan bahwa saya sudah gila jika saya ingin selamat dari cercaan manusia. Hal itulah yang membuat saya mulai sedikit demi sedikit cuek dan menganggap cercaan orang-orang pada saya tak ubah layaknya angin yang sekedar lewat saja, tak perlu diambil hati apalagi diratapi.

Memang, fitrahnya manusia punya perasaan sakit hati. Namun, bukan berarti ucapan orang yang membuat kita sakit hati itu harus mematahkan semangat kita, meruntuhkan prinsip kita, apalagi jika sampai membuat kita meninggalkan syariatNya hanya demi selamat dari penilaian dan cercaan manusia.

Soal sakit hati? Ya, saya pun sakit hati. Ketika lisan usil itu menyebut saya ninja,istri teroris,setan,i**s,copet atau apapun itu. Tentang lisan-lisan yang ‘usil’ itu hmmm biarkan sajalah, karena kelak mereka sendirilah yang akan mempertanggungjawabkannya. So, jangan kalah cuma karena omongan mereka yang tak tahu apa-apa tentang dirimu ukhti ^^

Sebuah nasehat yang kerap saya dengar dari Mama sejak dulu. “Jangan malu dan jangan takut selama kita melakukan hal yang benar. Malu dan takutlah saat kita melakukan hal yang salah”. Jadi mengapa kita harus takut dicerca dan di ghibahi ketika kita benar?. Mau kita benar ataupun salah kita tidak akan selamat dari cercaan dan ghibahan manusia kan? . Daripada kita melakukan keburukan plus cercaan dan ghibahan, lebih baik melakukan kebenaran saja. Toh sama-sama kena cercaan dan ghibahan.

Ketika ada orang yang mencerca atau membicarakan kita, harusnya berterimakasih karena mereka telah berbaik hati menyumbangkan pahala kebaikan mereka untuk kita. Jangan marah ^^

Selamat berproses, teruslah memperbaiki diri, bukan semakin merasa paling baik sendiri ^^v

Niat, masihkah engkau lurus?

green roses“Nilai suatu amalan itu tergantung dari niatnya”

Betapa sering saya, kamu dan kita semua mendengar kalimat familiar itu bukan? Ya, Niat. Lagi-lagi masalah niat. Lagi-lagi urusan niat. Suatu hal yang teramat penting dan utama , begitupun bagi saya pribadi.

Lalu Niat itu apa sih? Mengapa ia amat penting? Dan mengapa ia bisa menjadi tolak ukur dalam menilai suatu amalan?

Niat (Arab: نية Niyyat) adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan yang ditujukan hanya kepada Allah. Secara bahasa, orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti ‘sengaja’. Al- Khathabi mengatakan, “Niat adalah bermaksud untuk mengerjakan sesuatu dengan hati dan menjatuhkan pilihan untuk melakukan hal tersebut. Namun ada juga yang berpendapat bahwa niat adalah tekad bulat hati. Baca Selengkapnya tentang niat

Ketika kita melakukan segala sesuatu, tentu dari awal kita sudah ingin meniatkan semuanya Lillahitaala agar bernilai ibadah bukan? Namun realitanya terkadang kita lupa akan niat awal dan lambat laun niat kita secara disadari ataupun tidak telah bergeser, bukan lagi mengharap ridho dan penilaian Allah semata, namun sudah jadi ingin dinilai mahluk !!

Hmmm, niat itu mudah sekali bergeser ya jika kita tidak selalu memperbaharui niatan kita. Apalagi ketika dihadapkan dengan ujian dunia berupa kesenangan, kenikmatan dan segala macamnya yang membuat kita terbuai lantas terlena, ujung-ujungnya melakukan segala sesuatunya karena ingin dipuji, dihargai, dan berakhir dengan sikap sombong serta riya. Naudzubillah.

Bagi saya, memperbaharui niat itu sungguh penting. Dan untuk bisa memperbaharui niat tentunya kita harus rajin memeriksa niatan kita dong. Tapi yang saya rasakan, tak mudah mengenali niat mana yang masih tetap dan mana yang sudah bergeser. Namun hal itu bukan jadi alasan kita untuk membiarkan niat kita bergeser bahkan mungkin berubah total atau bahkan berantakan.

Tidak ada yang paling berat untuk ku obati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah” –Sufyan Ats Suari–

Ah, ternyata memang menjaga niat agar tetap sama itu tak mudah. Namun bukan berarti kita tidak dapat melakukannya bukan? Niat itu memang hanya kita dan Allah saja yang tahu. Kita bisa saja bilang niat kita Lillahitaala padahal nyatanya kita masih memburu perhatian dan penilaian mahluk. Ya, lagi-lagi masalah niat. Semuanya tergantung kita, lurus atau tidaknya sebuah niat. Tergantung tujuan kita pula. Jika niatan itu Lillahitaala, appaun penilaian dan komentar manusia kita akan tetap semangat melakukannya.

Yuk saling mengingatkan, agar tetap bisa menjaga dan memperbaharui niatan kita. Karena niat itu mudah sekali berubah. Jangan lelah untuk terus memperbaiki niat kita 🙂