Kamukah itu?

996149_301636193348912_6084200148899306129_nBerawal dari kekaguman menghantarkanmu pada sebuah keputusan

Meski tak mudah untuk memulainya, meski tak mudah pula mempertahankan dan memperjuangkannya.

 

Niqab !

Bukan karena engkau merasa sangat cantik, sehingga harus kau tutupi.

Bukan pula karena merasa tak percaya diri, hingga harus dibiarkan tersembunyi.

Dan bukan juga karena ingin dipandang baik, suci dan ‘berharga’ di mata manusia.

Bukan, sungguh bukan karena itu.

 

Keputusanmu dibuat hanya untuk menjaga

Berupaya menjaga apa yang sepantasnya dijaga

Keputusanmu dibuat semata ingin berusaha

Menjadi sebuah permata di hadapanNya.

 

Sebuah ungkapan yang dulu pun saya rasakan. Terkagum melihat seorang perempuan yang tak satupun kujumpai wajahnya di dunia maya.

Sebuah kekaguman yang dulu saya rasakan. Saat berkesempatan berjumpa dengan perempuan-perempuan bercadar. Suatu kesempatan dapat melihat wajah-wajah cantik yang selama ini mereka tutupi, yang pada akhirnya membuat saya tersadar bahwa kecantikan itu spesial,istimewa dan hanya dipersembahkan untuk orang-orang yang spesial pula, mahram kita.

Dulu, saya menganggap aneh dan ekstrim terhadap perempuan-perempuan yang menutupi wajahnya dan yang tidak suka memajang fotonya. Fanatik, berlebihan !!

Namun lambat laun, saya semakin sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah baik dan dapat menjaga kemuliaan mereka. Sikap yang mereka pegang teguh meski terkadang godaan seringkali datang, sungguh bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan jika bukan karenaNya.

Sungguh ingin menjadi seperti mereka yang pandai menjaga.

Mereka cantik, berhijab sempurna dan memiliki akhlak yang mempesona. Namun tak sedikitpun mereka berbangga dengan apa yang ada pada diri mereka. Tak sedikitpun mereka suka menampakkan diri ke hadapan umum hanya agar diakui keberadaanya. Hanya agar dunia tahu, bahwa ia memakai pakaian sesuai syariat-Nya. Hanya agar orang-orang tau bahwa ia begitu cantik dengan niqabnya. Sungguh, tak pernah mereka melakukan itu.

Mereka sungguh konsisten. Pesona dunia maya tak sedikitpun menarik mereka hingga menanggalkan prinsip mereka. Mereka tak suka dipandang, tak suka jika seseorang apalagi lelaki asing memperhatikan ia secara seksama. Ya, itulah mereka meskipun di dunia maya. Mereka tak rela potret mereka dapat dinikmati setiap mata. Mata-mata yang mungkin dapat saja menjadikan foto-foto itu objek fantasi kotornya.

Dari mereka saya mengambil sebuh pelajaran berharga. Dan dari mereka pulalah tamparan keras seolah saya rasakan. Terkadang masih ada keinginan untuk meng-upload foto ke sosial media. Terkadang masih ingin ‘memperlihatkan diri’ meski hanya tampak belakang, samping ataupun hanya tampak niqab saja. Pelajaran dari mereka sungguh membuat diri saya malu, saya merasa tak suka dipandang apalagi diperhatikan hingga saya memutuskan untuk mengenakan niqab. Lantas jika saya mengupload foto meski hanya terlihat mata saja, bukankah itu tandanya masih senang dilihat? Masih ingin diperhatikan? Lalu apa fungsi niqab sebenarnya bagi saya? Apakah hanya nampak hiasan saja? Semoga tidak demikian. 😦

Dan beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah gambar di sosial media yang bertuliskan :

Aku sangat kagum dengan wanita yang tak kutemukan fotonya di dunia maya. Itu berarti, untuk melihatnya aku harus bertemu dengan ayahnya. Kamukah itu?

 

Ya, semoga .

Sampai berjumpa di rumah ^_^

 

Cimahi 26032016 | @rositadewiha

Iklan

Tentang ‘Menunggu’

Banyak kata yang kudengar tentangnya.

Menunggu, meluangkan waktu untuk sesuatu.

Tahukah kamu apa saja yang telah dikorbankan ketika kita memutuskan untuk menunggu?

Apalagi menunggu sesuatu yang masih abu-abu, belum nampak kejelasan akhirnya.

Sesuatu yang belum pasti. Sesuatu yang terkadang kita pun masih ragu.

Sesuatu yang bahkan tak jarang membuat kita berdebar, akankah yang kita tunggu benar-benar datang?

ataukah ia tengah menuju jalan lain, tengah menghampiri takdir yang lain?

Entahlah, kita hanya bisa menerka.

 

Ketika kita memutuskan untuk menunggu, maka kita telah membuang banyak waktu.

Membuang banyak hal yang mungkin akan lebih indah, melewatkan yang lain yang mungkin lebih baik.

Ketika kita memutuskan untuk menunggu. Sadari, seberapa pantas sesuatu itu untuk kita tunggu. Seberapa layakkah kita untuk menunggu sesuatu itu. Dan pastikanlah sesuatu yang kau tunggu itu memang tengah menuju jalan yang sama denganmu, tengah menempuh perjalanan ke arahmu.

Jangan sampai kita hanya berdiam diri menunggu. Melewatkan banyak hal. sedangkan yang ditunggu justru tengah melangkah bahkan mungkin nyaris sampai ke arah dan tujuan yang lain, bukan padamu.

Jika hal itu terjadi, jangan sekali-kali menyalahkan yang ditunggu. Apalagi menyalahkan keadaan. Kita sendirilah yang telah secara sadar memutuskan untuk menunggu. Maka, tunggulah segala resiko atas pilihan itu.

 

Tentang menunggu

Obrolan sore | Rumah 22 Maret 2016 | @rositadewiha

 

Percuma Kuliah Jika Jadi Ibu Rumah Tangga ?

agree

Percuma dong kuliah, kalau ujungnya jadi ibu rumah tangga?

Tak jarang kudapati perkataan seperti itu dari segelintir orang entah itu dari yang masih punya ikatan keluarga maupun dari tetangga ataupun masyarakat yang tak jarang bertanya rencana kerja pasca kuliah ketika saya pulang ke rumah orang tua di desa.

Dari segelintir orang itu, sedikitnya saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa mayoritas masyarakat di desa saya memang masih memiliki pemahaman bahwa ketika seorang perempuan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi itu tandanya ia adalah seorang calon pekerja,karyawan, atau bisa disebut seorang calon wanita karir.

Saya tidak  menyalahkan ataupun ingin mencibir pemikiran itu. Bagi saya setiap pemikiran pasti beralasan. Begitupun dengan pemikiran mayoritas masyarakat yang pernah saya temui, kebanyakan berpikir bahwa perguruan tinggi akan menghantarkan seseorang menjadi seseorang yang memiliki kehidupan yang lebih baik, dan biasanya ditandai dengan pekerjaan yang ‘baik’ menurut pandangan kebanyakan dari mereka.

Sedangkan bagi saya, mendapatkan pekerjaan ataupun gaji yang menjanjikan pasca lulus kuliah itu bukanlah parameter kesuksesan seseorang. Dan jujur saja semua hal itu bukanlah yang menjadi cita-cita bagi saya. Apalagi saya adalah seorang perempuan, calon istri dan calon ibu yang otomatis akan menjadi calon madrasah peradaban generasi mendatang. Insya Allah.

Jujur saja, ketika mendapatkan pertanyaan mengenai rencana karir baik dari teman maupun dari dosen, yang pertama melintas dipikiran untuk jadi jawaban adalah “menjadi seorang istri dan ibu yang keren”. 😀

Nah lho, lalu kamu gak akan kerja?

Begitulah kira-kira respon yang biasa didapati jika saya menyampaikan cita-cita saya itu. Bagi saya keinginan itu lebih membuat semangat saya terpacu untuk terus berusaha sebaik mungkin, ketimbang keinginan untuk mendapatkan pekerjaan. Saya tidak berpikir akan bekerja apalagi jika sudah menjadi pendamping seseorang kelak. Namun, ya itu hanya keinginan. Tapi kalaupun setelah kuliah harus bekerja ya mau tidak mau saya akan bekerja, tapi mungkin saya akan lebih memilih bekerja di usaha saya sendiri (berwirausaha) ketimbang harus bekerja di luar rumah. Tapi ya itu baru sekedar rencana dan keinginan. Kenyataannya? entahlah, kuliah saja belum selesai  😀

Terus ngapain kamu kuliah ?

Hmm karena saya mau “menjadi seorang istri dan ibu yang keren”. hehe ^^v

Ya iya dong, saya butuh banyak ilmu untuk menjadi seorang pendamping yang keren. Begitupun dengan menjadi seorang ibu yang keren, tentunya saya harus punya banyak ilmu untuk menciptakan madrasah terbaik di keluarga saya kelak.

Bagi saya, bangku kuliah itu bukan semata untuk mendapatkan suatu gelar. Atau jika hanya untuk menduduki posisi pekerjaan tertentu yang diidamkan kebanyakan orang. Apalagi kalau cuma sekedar buat terlihat ‘keren’. Bukan untuk itu semua.

Bagi saya, saya bersyukur bisa sampai ke bangku kuliah. Dengan pengorbanan orangtua saya yang bukan keluarga ‘kaya raya’, dengan prestasi saya yang biasa saja, dan dengan universitas yang tak banyak dikenal orang. Tapi dari itu semua, saya banyak belajar dan banyak merasakan perubahan yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya tidak ‘memaksakan diri’ untuk kuliah.

Kuliah bagi saya adalah proses membentuk pola pikir. Sebuah proses untuk bisa menjadi orang yang tidak berpikiran sempit dan kaku. Sebuah tempat dimana kita bisa banyak belajar berbagai hal. Belajar berbaur, mengenal karakter, belajar bersosialisasi, belajar bagaimana bersikap menghadapi berbagai perbedaan, suku, ras dan agama, dan tentunya belajar untuk terus bersyukur karena tak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Menurut saya pribadi, saya tidak sependapat jika ada yang mengatakan bahwa ‘percuma’ kuliah jika ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga. Percuma kuliah jika lulus kuliah cuma jadi pengangguran saja, setiap hari cuma jadi penghuni kasur,dapur dan sumur. Hmmm tidak ada yang percuma, semuanya pasti ada manfaatnya.

Ilmu yang kita dapat, berbagai hal yang kita pelajari selama kuliah tentunya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita kelak, meski bukan untuk sebuah ‘pekerjaan’ yang mengharuskan kita duduk di kantor dan meninggalkan rumah, sebaik-baiknya tempat bagi wanita.

Rumah adalah sebaik-baiknya tempat bagi wanita? Lalu wanita yang bekerja itu bagaimana? Saya tidak mengatakan bekerja di luar rumah bagi seorang perempuan itu buruk dan tercela. Tidak salah jika keadaan mengharuskan sorang perempuan bekerja di luar rumah, selama ia bisa menjaga izzah dan iffahnya dan tentunya mendapatkan ijin dan ridho dari suaminya. Sedangkan bagi saya pribadi, sepertinya bekerja di rumah itu lebih asiiik ^_^

Tapi, tetap saja semua kembali pada diri kita masing-masing. Semuanya kembali pada pilihan kita, dan jangan kita lupa bahwa setiap pilihan punya konsekuensi yang harus kita terima.

Jangan malu jika kita bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga itu keren lho. Dan jangan lagi-lagi kita punya pemikiran bahwa percuma sekolah tinggi jika ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga. Hanya jadi ‘pelayan’ suami. Jalani semuanya apapun dengan niat untuk beribadah dan meraih ridhoNya , insyaa Allah apapun pilihannya akan bernilai pahala ^^

Mari luruskan niat. Senantiasa memperbaiki diri. Jangan pernah merasa paling baik sendiri 🙂

Rumah, 21 Maret 2016 | @rositadewiha

Tambah ilmunya, bukan koleksi jilbabnya

notestoself.jpg

Sebuah catatan untuk diri yang mulai tergoda, atau bahkan telah tergoda.

Diawal menapaki jalan perubahan, hijrah.

Mengubah gaya berpakaian, satu persatu, tahap demi tahap.

Tak menyangkal, hijab syar’i itu harganya 2-3 kali lipat dari kerudung tipis yang pernah kupakai. Tak menampik juga, perlu menyisihkan recehan dari sisa uang jajan untuk bisa membeli 1-2 kerudung syar’i saat itu.

Diawal-awal masa hijrah, wajar saat muncul keinginan untuk menambah membeli setidaknya 1 untuk ganti, karena rasanya kurang nyaman memakai kerudung yang sama setiap hari, atau harus curingke (cuci-kering-pake).

Ya, wajar rasanya saat itu.

Namun kini, setelah beberapa tahun berjalan. Alhamdulillah senang sekali rasanya melihat banyaknya yang menyediakan kerudung/jilbab yang syar’i baik di olshop maupun di toko-toko. Meski memang masih banyak yang hanya sekedar melabelkan kata syar’i dan menggunakan bahan yang lebih panjang namun nyatanya belum memenuhi kriteria hijab yang syar’i.

Semakin kesini aku mulai mengamati yang terjadi pada akhwat-akhwat hijaber, yang mungkin salah satunya adalah aku sendiri. Setelah berhijab , merasa telah syar’i, bangga dengan hijabnya. Sudah mulai kendur kajiannya. Sudah mulai lebih suka berlama-lama di dunia maya dibandingkan di taman-taman surgaNya. Lebih sering ‘mantengin’ trend warna dan gaya hijab yang baru, dibandingkan menyelami kisah-kisah Rasulullah shalaulohu’alayhi wasalam beserta para sahabat dan shahabiyah terdahulu.

Semakin kesini, model-model jijab semakin beragam. Hiasannya semakin bermacam-macam. Coraknya semakin menarik perhatian. Warnanya kian mencolok. Begitupun dengan niqab/cadar. Bahkan tak jarang dijumpai harga jilbab yang sangat melangit karena mewahnya hiasan yang ada padanya. Hilanglah sudah kesederhanaan. Beralihlah pakaian menjadi hiasan dan pakaian kebanggan.

”Barang siapa mengenakan pakaian syuhroh (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Semakin kesini, mulai goyah untuk tetap mempertahankan kesederhanaan. Mulai menggebu-gebu untuk membeli banyak koleksi hijab model terbaru. Fitrahnya wanita memang senang melihat yang indah, dan senang berbelanja. Namun, jika itu hanya untuk menambah koleksi, apakah harus? jika itu hanya untuk membuat diri kita semakin cantik, apakah perlu?

Semakin kesini, yuk semakin pertambah ilmu. Karena yang akan menyelamatkan kita bukanlah seberapa banyak koleksi hijab kita, melainkan selurus apa niatan kita untuk berhijab. Bukan seberapa tinggi kualitas pakaian kita, melainkan seberapa tinggi kualitas amalan kita. Dan setiap amalan yang berkualitas tentunya butuh ilmu untuk mencapainya selain daripada niatan kita.

catatan dan teguran untuk diri. Yang mulai lupa dan mulai tergoda.

Ukhti, tambah terus ilmunya bukan koleksi jilbabnya 🙂

 

wismaQQ 11022016 | @rositadewiha

 

Cinta itu…….

Cinta, hal yang amat rentan dan sensitif bagiku. Ya cinta sudah menjadi keseharianku dan juga kita semua. Dengan cinta, katanya kesulitan apapun mampu dilalui. Dengan cinta, katanya seperih apapun terlewati. Dan katanya demi cinta, samudera yang luas pun rela diarungi. Lagi-lagi karena cinta, romeo dan juliet rela mati sia-sia. Bahkan karena cinta pula, terukir kisah laila majnun, gila.

Itu adalah sederet kisah cinta terbodoh yang pernah aku dengar. Ketika seseorang rela hidupnya sia-sia hanya karena perasaan cinta pada seorang mahluk bernama manusia.

Ah apakah akupun akan demikian? Terlalu mengagungkan cinta dan melupakan Sang Pemilik Cinta sesungguhnya?

Ah apakah aku telah demikian ? terasuki rasa cinta hingga membuat-Nya cemburu?

Aku berharap TIDAK !!

Jadi sebenarnya cinta itu apa sih?

Karena bagiku cinta itu adalah bahasan yang tak pernah bosan untuk dibahas. Obrolan tentang cinta itu selalu menjadi obrolan yang mengasyikan. Dan tulisan tentang cinta pun tak pernah habis untuk ditulis dan dibaca untuk diselami maknanya.

Cinta. Bagiku cinta itu Universal. Cinta tak hanya berbicara tentang perasaan seorang laki-laki pada perempuan saja.

Cinta itu adalah orangtua yang membesarkan dan mendidik anak-anaknya tanpa lelah dan pamrih.

Cinta itu adalah saudara yang menjaga saudaranya yang lain.

Cinta itu adalah kelembutan manusia pada tumbuhan dan hewan sebagai mahluk ciptaan Allah lainnya.

Cinta itu adalah tanggungjawab seorang suami pada keluarganya.

Cinta itu adalah ukhuwah yang menyatukan orang-orang yang beriman.

Dan cinta itu………….. Banyak hal !!

Kita tahu berbagai macam bentuk cinta bukan? Namun terkadang ada cinta yang seringkali kita kesampingkan. Yakni, mencintai Allah dan Rasul-Nya diatas segala-galanya.

Sudahkah kita melakukan hal itu?

Mencintai Allah dan Rasulullah diatas cinta-cinta yang lainnya?

Ataukah malah selama ini kita kehilangan rasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya karena terlalu mencintai mahluk-Nya dan mencintai dunia? Naudzubillah.

Siapa yang tak ingin punya cinta? Siapa yang bisa hidup tanpa cinta? Dan siapa yang bisa menghindari cinta?

Cinta itu tak selalu menjadi sebuah kesalahan. Cinta itu tak selalu berart keburukan. Dan cinta tak akan pernah mengantarkan kita pada kenistaan. Jika?

Jika setiap cinta yang kita miliki tak kita tempatkan diatas cinta Allah dan Rasul-Nya.

Jika Setiap cinta yang kita miliki berlandaskan atas cinta karena-Nya

Dan jika setiap cinta itu membuat kita semakin cinta pada Allah dan Rasul-Nya

Membuat kita semakin taat atas perintah-Nya

Membuat kita semakin takut untuk bermaksiat pada-Nya

Ya, itulah cinta bagiku.

Dan sekali lagi, cinta itu universal. Jadi jangan selalu persempit pikiran kita jika mendengar seseorang selalu membahas cinta. Karena cinta itu tak terbatas

Itu menurutku, sedang menurutmu cinta itu………..?

Kortim Salman, 17 Mei 2015

@RositaDewiha

Aktivis ??

Aktivis, lagi-lagi julukan itu telah membuatku bangga. Ya aku memang seorang aktivis, aktif di berbagai organisasi baik di dalam maupun luar kampus. Ya aku aktivis, yang selalu merasa waktuku bermanfaat jika aku berada di luar, menghabiskan waktuku untuk kepentingan umat, untuk berdakwah, nyaris tak memiliki hari libur. Ya, lagi-lagi aku mengatakan bahwa aku seorang aktivis, akhawat aktivis tepatnya. Dengar sekali lagi, aku seorang aktivis kawan! Ha ha ha seorang yang telah dilupakan dengan fitrah dan kewajiban utamanya hanya karena title itu.

Sombong rasanya ketika aku merasa bahwa aku telah memanfaatkan waktuku dengan baik. Malu rasanya ketika aku beranggapan semua aktifitasku telah membuat orangtuaku bangga, membuat mereka merasa bahwa anaknya berguna dan tak menghabiskan waktu senggangnya sia-sia.

Ah !! Aku telah salah besar. Pemikiranku fatal. Aku terlalu nikmat dengan euforia ke-aktivisanku, hingga aku lupa, ya aku melalaikan sesuatu, aku melupakan mereka, seolah menganggap mereka tidak jauh lebih penting dari semua kegiatan organisasiku, tidak jauh lebih membutuhkanku, tidak lebih berarti dari acara-acara besarku, ya aku lupa ,merekalah orangtuaku.

Orang yang ketika aku pulang senantiasa ada untukku, mendukungku, menyemangati kala aku futur, menenangkan kala aku gundah, mendengarkan kala aku mengeluhkan berbagai aktifitas dan kegiatan organisasi yang orang lain lihat melelahkan dan tak maksimal aku kerjakan.

Ah, aku keterlaluan. Setiapkali pulang, bukan kabarnya yang aku tanyakan, bukan kesehatannya yang aku khawatirkan, bukan bersamanya waktu liburan kuhabiskan. Setiap kali pulang, kamarlah tempatku seharian, menghabiskan waktu berlama-lama di depan laptop mengerjakan berbagai tugas organisasi, seharian bersama gadget untuk berkoordinasi mengenai acara organisasi, pulang malam lantas pergi lagi pagi, pulang sore hari, tidur dan esoknya meninggalkannya lagi, nyaris rumah seolah dianggap kamar hotel yang bebas didatangi dan pergi tanpa harus peduli pada penghuni lainnya.

Apakah aku telah lupa akan statusku sebagai seorang anak? Hanya karena aku seorang aktivis?. Ah apalah gunanya seorang aktivis, aktif di luar, mengenal banyak orang, mengetahui berbagai hal, namun sudah tak mengenal lagi orangtuanya. Ya Rabbi, semoga aku tak tergolong anak yang melupakan orangtua, yang menyakiti orangtua hingga termasuk pada golongan anak durhaka, naudzubillah.

Wahai para aktivis, lebih tepatnya akhawat aktivis. Engkau perempuan, yang nantinya berkemungkinan besar dibawa oleh suamimu,meninggalkan ayah serta ibumu. Kapan waktu baktimu tercurah? Kapan ayah ibumu diutamakan dibanding kesibukanmu itu? Berorganisasi itu penting, namun bukan berarti harus menyita seluruh waktumu bahkan menggadaikan kebersamaan yang selalu keluarga kita nantikan dan harapkan.

Wahai para aktivis, apa engkau mampu menjamin esok engkau masih bisa menemui kedua orangtuamu? Apa engkau mampu menjamin esok mereka atau engkau masih ada untuk sekedar bisa saling melempar senyum? Saling mencurahkan rindu yang menggunung? Ku yakin, tak ada yang bisa menjamin, bahkan aku sendiri pun hanya bisa diam dengan deraian air mata kala mengingat semua moment yang telah kurelakan hilang bersama mereka.

Selagi masih ada. Selagi nafas masih bisa kuhela. Aku mundur, bukan berarti tak lagi peduli dengan jalan dakwah ini. Bukan berarti tak lagi peduli dengan semua hal yang selalu kita perjuangkan bersama-sama, kembalinya kejayaan Islam.

Selagi orangtuaku masih bisa kujumpai. Selagi mereka belum lebih dulu meninggalkanku, atau aku yang lebih dulu meninggalkan mereka. Sebelum menyesal, ya lebih tepatnya sebelum aku terlanjur lebih menyesal dari saat ini.

Sekali lagi , aku mundur dan kembali ke rumah. Bukan tak ingin lagi berdakwah bersama-sama kalian saudara-saudaraku yang tak kenal lelah dalam memperjuangkan dakwah. In syaa Allah aku takkan berhenti dari jalan dakwah. Karena dakwah atau lebih enaknya kugunakan istilah menyampaikan kebaikan merupakan kewajiban kita selaku muslim, begitupun aku. In syaa allah aku tetap dalam jalan ini, berusaha menyampaikan kebaikan yang aku ketahui dan aku kuasai ilmunya dan telah aku cari tahu dasar hukum shahihnya.

Ketika kalian beranggpan hilangnya aku dari sekretariat, hilangnya aku dari kegiatan DKM atau sejenisnya itu menandakan bahwa aku benar-benar telah meninggalkan dakwah ? Tidak kawan, in syaa Allah aku tak akan sampai demikian. Bagiku dakwah tak harus selalu di masjid, dakwah tak harus selalu melalui organisasi, dakwah tak harus selalu di mimbar. Bagiku organisasi hanya salah satu dari jalan atau media dakwah, bukan satu-satunya cara dan jalan. Dakwah itu bisa tetap aku lakukan meski aku tak berada di organisasi manapun. Dakwahku bisa kulakukan lewat tulisan, tak selalu harus di dunia nyata karena kinipun nyatanya dunia maya memiliki potensi yang begitu luas untuk berdakwah. Dan bagiku dakwah tak harus selalu dalam bentuk ceramah, halaqah, liqo dan sejenisnya. Dengan sebuah obrolan sederhana di kampus, mengingatkan teman di kampus, mengajak tetangga melakukan kebaikan, dan satu hal yang bagiku cara dakwah yang kadang terlupakan oleh kita; dakwah melalui akhlaq perbuatan kita.

Ya, kuharap ketika nanti kalian menemukanku menghilang di barisan kalian. Aku nyatakan, bahwa hanya ragaku saja yang tak ada di sana, sedang jiwaku in syaa Allah akan tetap kupertahankan untuk terus bersama kalian. Dengan cara tetap memperjuangkan tujuan kita bersama, di tempat lain dengan caralain yang ku mampu lakukan.

Dan ketika nanti kalian menemukanku ada di tempat yang seringkali kalian sebut ‘eksklusif’ itu, tolong jangan cap aku telah berubah menjadi sosok yang eksklusif dan hanya ingin bersama-sama orang yang eksklusif pula. Aku tengah belajar untuk terus bisa menyampaikan kebaikan. Aku ingin terus berdakwah melalui tulisan, dan kalian pun faham bukan? Setiap apa yang kita sampaikan harus ada dasar ilmu dan dasar hukum yang jelas. Aku di sana bukan karena aku menganggap tempat itu lebih baik dari tempat-tempatku sebelumnya. Aku hanya menemukan kenyamanan disana. Namun bukan berarti bersama kalian tak membuatku nyaman. Aku hanya tengah ingin fokus belajar ilmu agama yang selama ini masih menjadi titik lemahku. Ya, ilmu agamaku masih sedikit sekali. Sedangkan itu yang jauh lebih aku perlukan untuk tetap bisa berada di jalan ini, ya jalan dakwah yang amat aku butuhkan terutama untuk aku aplikasikan di keluargaku.

Dan kini aku sadar, julukan orang yang memanggilku aktivis sungguh keliru. Selama ini aku hanya baru sebagai anggota organisasi belum sampai ke level seorang aktivis sesungguhnya. Karena aktivis itu bagiku yang bisa membawa perubahan, sedangkan aku……? 🙂

Diselesaikan di Perpustakaan FE

8 Mei 2015

@RositaDewiha

Biarlah Tak Perlu Saling Bicara

IMG_6402787387267

ilustrasi sumber :google

Ikhwan :

Hari ini Kita masih menatap langit yang sama

Hari ini kita masih menghadap kiblat yang sama

Hari ini kita masih berjuang bersama

Menjaga apa yang seharusnya dijaga

Hari ini kita mungkin sempat bertemu

Hari ini kita mungkin sempat berpapasan

Meski kita tak pernah berencana

Meski kita tak pernah memintanya

Aku sadar apa yang aku rasakan

Aku sadar benih apa yang telah aku tanam

Meski terkadang memendam itu tak mudah bagiku

Namun aku akan berusaha terus menjaganya

Aku serahkan cintaku pada-Nya

Agar ia tetap utuh sampai saat indah itu tiba

Akhawat :

Ya, hari ini kita mungkin menatap langit yang sama

Hari ini kita masih bersama-sama menghadap kiblat-Nya

Hari ini pun aku tengah berjuang

Menjaga apa yang seharusnya kujaga

Ya, hari ini mungkin kita sempat bertemu

Mungkin juga kita sempat berpapasan

Meski kita tak pernah berencana

Meski kita tak pernah memintanya

Aku pun sadar akan apa yang aku rasakan

Aku sadar atas benih yang pernah aku tanam

Meski memendam bagiku pun tak mudah

Namun aku akan berusaha terus menjaganya

Aku serahkan cintaku pada-Nya

Agar ia tetap utuh sampai saat indah itu tiba

Ikhwan & Akhawat :

Karena aku dan kau percaya

Cinta yang diserahkan pada-Nya takkan pernah melemahkan

Cinta yang dicurahkan pada-Nya takkan pernah membuat kegalauan

Aku dan kau percaya

Ketika aku telah menitipkan rindu itu pada-Nya

Ketika engkau pun menitipkan rindu itu pada-Nya

Lewat munajat di tiap sepertiga malam-Nya

Kedua rindu itu akan bertemu dalam ridho-Nya

Dan kita akan disatukan dengan cara-Nya yang indah

Meski kita tak pernah saling berucap,

Kini, biarlah tak perlu saling bicara

Mari pantaskan diri, bukan untukmu ataupun untukku melainkan untuk-Nya

Karena kita tak pernah tahu

Kematian atau jodoh yang akan lebih dulu menghampiri kita

@RositaDewiha