Apa yang berubah bisa berubah kembali

“Apa yang berubah bisa berubah kembali” (Stephenie Meyer)

Sebuah kutipan yang kutemukan dalam sebuah tulisan. Sebuah kalimat yang seolah memberikan titik terang atas pertanyaan yang semakin mengganggu akhir-akhir ini. Ya, sesuatu yang berubah bisa berubah kembali. Entah itu berubah semakin baik atau malah kembali ke keadaan sebelumnya atau bahkan mungkin bisa jadi jauh lebih buruk dari sebelumnya. Dan itu terjadi.

Rasanya malah ingin semakin menarik diri. Menyendiri. Seorang diri. Kalaupun ada, hanya sahabatku yang bisa kuterima. Orang-orang yang tak membenarkan namun tak jua memojokan ketika aku mengambil pilihan yang salah. Atau teman-teman yang telah cukup lama tinggal denganku yang setidaknya tidak berkomentar apapun tentangku.

Terkadang aku merindukan teman-teman saat kajian dulu. Teman yang menghilang satu persatu setelah status mereka berubah. Ya, aku tak dapat menyalahkan mereka karena sejatinya diri kita sendirilah yang bertanggungjawab atas hidup kita.

Kini, entah di bulan apa aku akan melepaskan sesuatu yang begitu mencolok ketika aku berubah di awal 2015 lalu. Apakah di masa-masa akhir statusku sebagai mahasiswi. Apakah tepat di hari wisudaku nanti? Entahlah, rasanya masih belum mampu untuk melepasnya meski sudah tak sanggup mengenakannya, seorang diri. Di tengah-tengah orang-orang yang tak begitu mengenalku. Di tengah-tengah orang -orang baru yang kian bertambah setiap tahun. Di tengah-tengah isu yang kerap diidentikan dengan penampilanku. Di tengah-tengah lingkungan militer yang begitu kuat. Di tengah-tengah keluarga yang kurang merestui. Dan di tengah-tengah iman yang tengah di bawah.

Selama ini aku telah mencoba dan setidaknya berusaha mempertahankan meski pada akhirnya diriku sendirilah yang menyerah.

Ambil baiknya, yang buruk semoga bisa dijadikan pelajaran 

Iklan

Pemberhentian Selanjutnya

Ruang Farisan

Bagi seorang mahasiswa kelulusan tentu sudah menjadi hal yang sangat diimpikan, karena setelahnya ada mimpi dan cita-cita yang harus diwujudkan. Terbayang hari setelah hasil ujian akhir diumumkan akan baik-baik saja, berharap segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Tapi ternyata, tidak ada yang baik-baik saja, semua berada diluar perkiraan.

Setelah hampir satu bulan nilai ujian para mahasiswa al-Azhar University diumumkan saya belajar beberapa hal, agaknya ini bukan hal yang baru, mungkin saya saja yang tidak terlalu peduli sebelumnya dengan pembelajaran yang ada dibalik kejadian-kejadian tersebut. Memang benar ternyata pepatah yang mengatakan “Kita baru tahu berharganya sesuatu, setelah kita kehilangan nya”.

Lihat pos aslinya 877 kata lagi

Kamukah itu?

996149_301636193348912_6084200148899306129_nBerawal dari kekaguman menghantarkanmu pada sebuah keputusan

Meski tak mudah untuk memulainya, meski tak mudah pula mempertahankan dan memperjuangkannya.

 

Niqab !

Bukan karena engkau merasa sangat cantik, sehingga harus kau tutupi.

Bukan pula karena merasa tak percaya diri, hingga harus dibiarkan tersembunyi.

Dan bukan juga karena ingin dipandang baik, suci dan ‘berharga’ di mata manusia.

Bukan, sungguh bukan karena itu.

 

Keputusanmu dibuat hanya untuk menjaga

Berupaya menjaga apa yang sepantasnya dijaga

Keputusanmu dibuat semata ingin berusaha

Menjadi sebuah permata di hadapanNya.

 

Sebuah ungkapan yang dulu pun saya rasakan. Terkagum melihat seorang perempuan yang tak satupun kujumpai wajahnya di dunia maya.

Sebuah kekaguman yang dulu saya rasakan. Saat berkesempatan berjumpa dengan perempuan-perempuan bercadar. Suatu kesempatan dapat melihat wajah-wajah cantik yang selama ini mereka tutupi, yang pada akhirnya membuat saya tersadar bahwa kecantikan itu spesial,istimewa dan hanya dipersembahkan untuk orang-orang yang spesial pula, mahram kita.

Dulu, saya menganggap aneh dan ekstrim terhadap perempuan-perempuan yang menutupi wajahnya dan yang tidak suka memajang fotonya. Fanatik, berlebihan !!

Namun lambat laun, saya semakin sadar bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah baik dan dapat menjaga kemuliaan mereka. Sikap yang mereka pegang teguh meski terkadang godaan seringkali datang, sungguh bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan jika bukan karenaNya.

Sungguh ingin menjadi seperti mereka yang pandai menjaga.

Mereka cantik, berhijab sempurna dan memiliki akhlak yang mempesona. Namun tak sedikitpun mereka berbangga dengan apa yang ada pada diri mereka. Tak sedikitpun mereka suka menampakkan diri ke hadapan umum hanya agar diakui keberadaanya. Hanya agar dunia tahu, bahwa ia memakai pakaian sesuai syariat-Nya. Hanya agar orang-orang tau bahwa ia begitu cantik dengan niqabnya. Sungguh, tak pernah mereka melakukan itu.

Mereka sungguh konsisten. Pesona dunia maya tak sedikitpun menarik mereka hingga menanggalkan prinsip mereka. Mereka tak suka dipandang, tak suka jika seseorang apalagi lelaki asing memperhatikan ia secara seksama. Ya, itulah mereka meskipun di dunia maya. Mereka tak rela potret mereka dapat dinikmati setiap mata. Mata-mata yang mungkin dapat saja menjadikan foto-foto itu objek fantasi kotornya.

Dari mereka saya mengambil sebuh pelajaran berharga. Dan dari mereka pulalah tamparan keras seolah saya rasakan. Terkadang masih ada keinginan untuk meng-upload foto ke sosial media. Terkadang masih ingin ‘memperlihatkan diri’ meski hanya tampak belakang, samping ataupun hanya tampak niqab saja. Pelajaran dari mereka sungguh membuat diri saya malu, saya merasa tak suka dipandang apalagi diperhatikan hingga saya memutuskan untuk mengenakan niqab. Lantas jika saya mengupload foto meski hanya terlihat mata saja, bukankah itu tandanya masih senang dilihat? Masih ingin diperhatikan? Lalu apa fungsi niqab sebenarnya bagi saya? Apakah hanya nampak hiasan saja? Semoga tidak demikian. 😦

Dan beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah gambar di sosial media yang bertuliskan :

Aku sangat kagum dengan wanita yang tak kutemukan fotonya di dunia maya. Itu berarti, untuk melihatnya aku harus bertemu dengan ayahnya. Kamukah itu?

 

Ya, semoga .

Sampai berjumpa di rumah ^_^

 

Cimahi 26032016 | @rositadewiha

Tentang ‘Menunggu’

Banyak kata yang kudengar tentangnya.

Menunggu, meluangkan waktu untuk sesuatu.

Tahukah kamu apa saja yang telah dikorbankan ketika kita memutuskan untuk menunggu?

Apalagi menunggu sesuatu yang masih abu-abu, belum nampak kejelasan akhirnya.

Sesuatu yang belum pasti. Sesuatu yang terkadang kita pun masih ragu.

Sesuatu yang bahkan tak jarang membuat kita berdebar, akankah yang kita tunggu benar-benar datang?

ataukah ia tengah menuju jalan lain, tengah menghampiri takdir yang lain?

Entahlah, kita hanya bisa menerka.

 

Ketika kita memutuskan untuk menunggu, maka kita telah membuang banyak waktu.

Membuang banyak hal yang mungkin akan lebih indah, melewatkan yang lain yang mungkin lebih baik.

Ketika kita memutuskan untuk menunggu. Sadari, seberapa pantas sesuatu itu untuk kita tunggu. Seberapa layakkah kita untuk menunggu sesuatu itu. Dan pastikanlah sesuatu yang kau tunggu itu memang tengah menuju jalan yang sama denganmu, tengah menempuh perjalanan ke arahmu.

Jangan sampai kita hanya berdiam diri menunggu. Melewatkan banyak hal. sedangkan yang ditunggu justru tengah melangkah bahkan mungkin nyaris sampai ke arah dan tujuan yang lain, bukan padamu.

Jika hal itu terjadi, jangan sekali-kali menyalahkan yang ditunggu. Apalagi menyalahkan keadaan. Kita sendirilah yang telah secara sadar memutuskan untuk menunggu. Maka, tunggulah segala resiko atas pilihan itu.

 

Tentang menunggu

Obrolan sore | Rumah 22 Maret 2016 | @rositadewiha

 

Percuma Kuliah Jika Jadi Ibu Rumah Tangga ?

agree

Percuma dong kuliah, kalau ujungnya jadi ibu rumah tangga?

Tak jarang kudapati perkataan seperti itu dari segelintir orang entah itu dari yang masih punya ikatan keluarga maupun dari tetangga ataupun masyarakat yang tak jarang bertanya rencana kerja pasca kuliah ketika saya pulang ke rumah orang tua di desa.

Dari segelintir orang itu, sedikitnya saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa mayoritas masyarakat di desa saya memang masih memiliki pemahaman bahwa ketika seorang perempuan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi itu tandanya ia adalah seorang calon pekerja,karyawan, atau bisa disebut seorang calon wanita karir.

Saya tidak  menyalahkan ataupun ingin mencibir pemikiran itu. Bagi saya setiap pemikiran pasti beralasan. Begitupun dengan pemikiran mayoritas masyarakat yang pernah saya temui, kebanyakan berpikir bahwa perguruan tinggi akan menghantarkan seseorang menjadi seseorang yang memiliki kehidupan yang lebih baik, dan biasanya ditandai dengan pekerjaan yang ‘baik’ menurut pandangan kebanyakan dari mereka.

Sedangkan bagi saya, mendapatkan pekerjaan ataupun gaji yang menjanjikan pasca lulus kuliah itu bukanlah parameter kesuksesan seseorang. Dan jujur saja semua hal itu bukanlah yang menjadi cita-cita bagi saya. Apalagi saya adalah seorang perempuan, calon istri dan calon ibu yang otomatis akan menjadi calon madrasah peradaban generasi mendatang. Insya Allah.

Jujur saja, ketika mendapatkan pertanyaan mengenai rencana karir baik dari teman maupun dari dosen, yang pertama melintas dipikiran untuk jadi jawaban adalah “menjadi seorang istri dan ibu yang keren”. 😀

Nah lho, lalu kamu gak akan kerja?

Begitulah kira-kira respon yang biasa didapati jika saya menyampaikan cita-cita saya itu. Bagi saya keinginan itu lebih membuat semangat saya terpacu untuk terus berusaha sebaik mungkin, ketimbang keinginan untuk mendapatkan pekerjaan. Saya tidak berpikir akan bekerja apalagi jika sudah menjadi pendamping seseorang kelak. Namun, ya itu hanya keinginan. Tapi kalaupun setelah kuliah harus bekerja ya mau tidak mau saya akan bekerja, tapi mungkin saya akan lebih memilih bekerja di usaha saya sendiri (berwirausaha) ketimbang harus bekerja di luar rumah. Tapi ya itu baru sekedar rencana dan keinginan. Kenyataannya? entahlah, kuliah saja belum selesai  😀

Terus ngapain kamu kuliah ?

Hmm karena saya mau “menjadi seorang istri dan ibu yang keren”. hehe ^^v

Ya iya dong, saya butuh banyak ilmu untuk menjadi seorang pendamping yang keren. Begitupun dengan menjadi seorang ibu yang keren, tentunya saya harus punya banyak ilmu untuk menciptakan madrasah terbaik di keluarga saya kelak.

Bagi saya, bangku kuliah itu bukan semata untuk mendapatkan suatu gelar. Atau jika hanya untuk menduduki posisi pekerjaan tertentu yang diidamkan kebanyakan orang. Apalagi kalau cuma sekedar buat terlihat ‘keren’. Bukan untuk itu semua.

Bagi saya, saya bersyukur bisa sampai ke bangku kuliah. Dengan pengorbanan orangtua saya yang bukan keluarga ‘kaya raya’, dengan prestasi saya yang biasa saja, dan dengan universitas yang tak banyak dikenal orang. Tapi dari itu semua, saya banyak belajar dan banyak merasakan perubahan yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya tidak ‘memaksakan diri’ untuk kuliah.

Kuliah bagi saya adalah proses membentuk pola pikir. Sebuah proses untuk bisa menjadi orang yang tidak berpikiran sempit dan kaku. Sebuah tempat dimana kita bisa banyak belajar berbagai hal. Belajar berbaur, mengenal karakter, belajar bersosialisasi, belajar bagaimana bersikap menghadapi berbagai perbedaan, suku, ras dan agama, dan tentunya belajar untuk terus bersyukur karena tak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Menurut saya pribadi, saya tidak sependapat jika ada yang mengatakan bahwa ‘percuma’ kuliah jika ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga. Percuma kuliah jika lulus kuliah cuma jadi pengangguran saja, setiap hari cuma jadi penghuni kasur,dapur dan sumur. Hmmm tidak ada yang percuma, semuanya pasti ada manfaatnya.

Ilmu yang kita dapat, berbagai hal yang kita pelajari selama kuliah tentunya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita kelak, meski bukan untuk sebuah ‘pekerjaan’ yang mengharuskan kita duduk di kantor dan meninggalkan rumah, sebaik-baiknya tempat bagi wanita.

Rumah adalah sebaik-baiknya tempat bagi wanita? Lalu wanita yang bekerja itu bagaimana? Saya tidak mengatakan bekerja di luar rumah bagi seorang perempuan itu buruk dan tercela. Tidak salah jika keadaan mengharuskan sorang perempuan bekerja di luar rumah, selama ia bisa menjaga izzah dan iffahnya dan tentunya mendapatkan ijin dan ridho dari suaminya. Sedangkan bagi saya pribadi, sepertinya bekerja di rumah itu lebih asiiik ^_^

Tapi, tetap saja semua kembali pada diri kita masing-masing. Semuanya kembali pada pilihan kita, dan jangan kita lupa bahwa setiap pilihan punya konsekuensi yang harus kita terima.

Jangan malu jika kita bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga itu keren lho. Dan jangan lagi-lagi kita punya pemikiran bahwa percuma sekolah tinggi jika ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga. Hanya jadi ‘pelayan’ suami. Jalani semuanya apapun dengan niat untuk beribadah dan meraih ridhoNya , insyaa Allah apapun pilihannya akan bernilai pahala ^^

Mari luruskan niat. Senantiasa memperbaiki diri. Jangan pernah merasa paling baik sendiri 🙂

Rumah, 21 Maret 2016 | @rositadewiha

Perempuan, Pembangun ataukah Penghancur?

aa6d0b8f6f4e8b011ec6d94744123dc7

Menjadi seorang perempuan itu takdir dan juga amanah, namun untuk menjadi perempuan yang baik itu adalah sebuah pilihan. Ya, betapa sering kita mendengar bahwa perempuan itu bisa menjadi perhiasan dunia yang terbaik dan sebaliknya ia juga dapat menjadi sumber fitnah terburuk dan terbesar di dunia.

Perempuan, sosok yang teramat penting dan bersejarah bagi peradaban manusia. Darinya, lahirlah generasi-generasi penerus peradaban. Kita semua telah sepakat bahwa awal mula berkembangnya manusia itu bukan berawal dari berevolusinya kera hingga menjadi manusia, melainkan berawal dari penciptaan Adam as dan dikaruniakannya anak-anak lewat rahim seorang perempuan, yakni Hawa.

Terlahir sebagai seorang perempuan tentunya tidak mudah. Banyak halang rintang dan cobaan mengiringi pertumbuhannya. Begitupun dengan para orangtua kita, tidak mudah mendidik dan membesarkan seorang anak perempuan hingga bisa menjadi perempuan seutuhnya yang bisa menjadi perhiasan terbaik bagi orangtua dan sekitarnya.

Kita sebagai seorang perempuan tentunya menyadari bahwa dari kitalah potret masa depan peradaban terlihat. Dari kitalah, sebuah peradaban baru akan dimulai. Dan diri kitalah yang bisa menentukan baik buruknya masa depan suatu bangsa. Seperti yang seringkali kita dengar dari sebuah syair arab :“Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khoirul ‘Irq” yang artinya : seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa berakar kebaikan.

Lihatlah, betapa luar biasanya peran seorang perempuan dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Dari kitalah bangsa yang baik itu bisa terwujud. Dan dari kita pula bangsa yang hancur itu berawal. Mengapa ? Hal itu karena seperti yang terdapat pada syair arab diatas, seorang perempuan itu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, yang tak lain anak-anak itulah yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Lalu, untuk menjadi sekolah pertama terbaik dan mencetak generasi-generasi terbaik apakah hanya cukup dengan menjadi seorang perempuan dan melahirkan banyak anak saja? Tentu tidak saudariku. Banyak hal yang harus kita siapkan dan lakukan. Banyak hal yang harus kita jaga dan pertahankan.

Agar kita dapat menjadi madrasah (sekolah) pertama terbaik, langkah pertama yang harus kita lakukan tentunya dengan memperbaiki diri kita. Memperbaiki diri bukan secara lahiriah saja melainkan memperbaiki diri dari segala aspek kehidupan. Mulai dari ruhiyah hingga kehidupan bersosial.

Dalam keseharian tentunya kita tak bisa terlepas dari kehidupan sosial. Dari kehidupan sosial itulah ujian bagi seorang perempuan banyak bermunculan. Dan sikap kitalah yang akan menentukan seperti apa kita dalam kehidupan bersosial. Menjadi perempuan yang baik ataukah sebaliknya, itu adalah pilihan kita. Diri kitalah yang menentukan bagaimana kita akan bersikap. Lalu, seperti apakah seharusnya seorang perempuan bersikap dalam kesehariannya?

Ada beberapa poin penting yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh kita selaku perempuan mengenai bagaimana harusnya bersikap di dalam kehidupan sehari-harinya. Diantaranya :

  1. Menutup aurat secara sempurna (berpakaian syar’i)

Sebagai seorang perempuan muslim (muslimah) tentunya ini adalah kewajiban utama bagi kita untuk menutup aurat kita dimanapun kita berada. Menutup aurat secara sempurna sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-qur’an : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).

  1. Menjadikan rasa malu sebagai perisai iman.

Seorang perempuan sudah selayaknya memiliki rasa malu yang lebih tinggi, karena rasa malu itu dapat menjadi perisai imannya. Selain itu rasa malu yang ada pada diri perempuan dapat menjadikannya lebih mulia, karena rasa malu itu dapat mendatangkan kebaikan dan menjaga ia dari perbuatan yang buruk. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ : “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

  1. Menjaga kehormatan

Seorang perempuan yang baik ialah perempuan yang dapat senantiasa menjaga kehormatannya. Dan menjaga kehormatan ini tentunya tidaklah mudah. Menjaga kehormatan bisa kita lakukan dengan memahami betul batasan-batasan komunikasi dan pergaulan kita dengan lawan jenis. Menjaga kehormatan ini merupakan poin penting dimana kualitas seorang perempuan dapat diukur darinya.

 

Poin yang diutarakan di atas merupakan sebagian dari hal-hal yang sepatutnya diperhatikan dan dilakukan oleh kita selaku seorang perempuan. Poin-poin tersebut merupakan poin utama yang jika seorang perempuan sudah bisa melaksanakannya dengan baik maka ketiga poin tersebut bisa mendorong sikap-sikap baik lainnya terwujud. Jika seorang perempuan telah menutup aurat secara sempurna dan sesuai syariat, memelihara rasa malunya, dan menjaga kehormatannya maka ia akan senantiasa baik dalam berperilaku di dalam kehidupan sehari-harinya.

Teruntuk saudariku, para perempuan calon madrasah terbaik. Jagalah diri kita, pantaskan diri kita demi mempersiapkan bangsa yang jauh lebih baik lagi. Diri kita dan perilaku kita akan menentukan, apakah kita akan menjadi perempuan pembangun ataukah sebagai penghancur bangsa? Pilihan ada padamu ^_^