Perempuan, Pembangun ataukah Penghancur?

aa6d0b8f6f4e8b011ec6d94744123dc7

Menjadi seorang perempuan itu takdir dan juga amanah, namun untuk menjadi perempuan yang baik itu adalah sebuah pilihan. Ya, betapa sering kita mendengar bahwa perempuan itu bisa menjadi perhiasan dunia yang terbaik dan sebaliknya ia juga dapat menjadi sumber fitnah terburuk dan terbesar di dunia.

Perempuan, sosok yang teramat penting dan bersejarah bagi peradaban manusia. Darinya, lahirlah generasi-generasi penerus peradaban. Kita semua telah sepakat bahwa awal mula berkembangnya manusia itu bukan berawal dari berevolusinya kera hingga menjadi manusia, melainkan berawal dari penciptaan Adam as dan dikaruniakannya anak-anak lewat rahim seorang perempuan, yakni Hawa.

Terlahir sebagai seorang perempuan tentunya tidak mudah. Banyak halang rintang dan cobaan mengiringi pertumbuhannya. Begitupun dengan para orangtua kita, tidak mudah mendidik dan membesarkan seorang anak perempuan hingga bisa menjadi perempuan seutuhnya yang bisa menjadi perhiasan terbaik bagi orangtua dan sekitarnya.

Kita sebagai seorang perempuan tentunya menyadari bahwa dari kitalah potret masa depan peradaban terlihat. Dari kitalah, sebuah peradaban baru akan dimulai. Dan diri kitalah yang bisa menentukan baik buruknya masa depan suatu bangsa. Seperti yang seringkali kita dengar dari sebuah syair arab :“Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khoirul ‘Irq” yang artinya : seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa berakar kebaikan.

Lihatlah, betapa luar biasanya peran seorang perempuan dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Dari kitalah bangsa yang baik itu bisa terwujud. Dan dari kita pula bangsa yang hancur itu berawal. Mengapa ? Hal itu karena seperti yang terdapat pada syair arab diatas, seorang perempuan itu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, yang tak lain anak-anak itulah yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Lalu, untuk menjadi sekolah pertama terbaik dan mencetak generasi-generasi terbaik apakah hanya cukup dengan menjadi seorang perempuan dan melahirkan banyak anak saja? Tentu tidak saudariku. Banyak hal yang harus kita siapkan dan lakukan. Banyak hal yang harus kita jaga dan pertahankan.

Agar kita dapat menjadi madrasah (sekolah) pertama terbaik, langkah pertama yang harus kita lakukan tentunya dengan memperbaiki diri kita. Memperbaiki diri bukan secara lahiriah saja melainkan memperbaiki diri dari segala aspek kehidupan. Mulai dari ruhiyah hingga kehidupan bersosial.

Dalam keseharian tentunya kita tak bisa terlepas dari kehidupan sosial. Dari kehidupan sosial itulah ujian bagi seorang perempuan banyak bermunculan. Dan sikap kitalah yang akan menentukan seperti apa kita dalam kehidupan bersosial. Menjadi perempuan yang baik ataukah sebaliknya, itu adalah pilihan kita. Diri kitalah yang menentukan bagaimana kita akan bersikap. Lalu, seperti apakah seharusnya seorang perempuan bersikap dalam kesehariannya?

Ada beberapa poin penting yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh kita selaku perempuan mengenai bagaimana harusnya bersikap di dalam kehidupan sehari-harinya. Diantaranya :

  1. Menutup aurat secara sempurna (berpakaian syar’i)

Sebagai seorang perempuan muslim (muslimah) tentunya ini adalah kewajiban utama bagi kita untuk menutup aurat kita dimanapun kita berada. Menutup aurat secara sempurna sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-qur’an : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).

  1. Menjadikan rasa malu sebagai perisai iman.

Seorang perempuan sudah selayaknya memiliki rasa malu yang lebih tinggi, karena rasa malu itu dapat menjadi perisai imannya. Selain itu rasa malu yang ada pada diri perempuan dapat menjadikannya lebih mulia, karena rasa malu itu dapat mendatangkan kebaikan dan menjaga ia dari perbuatan yang buruk. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ : “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

  1. Menjaga kehormatan

Seorang perempuan yang baik ialah perempuan yang dapat senantiasa menjaga kehormatannya. Dan menjaga kehormatan ini tentunya tidaklah mudah. Menjaga kehormatan bisa kita lakukan dengan memahami betul batasan-batasan komunikasi dan pergaulan kita dengan lawan jenis. Menjaga kehormatan ini merupakan poin penting dimana kualitas seorang perempuan dapat diukur darinya.

 

Poin yang diutarakan di atas merupakan sebagian dari hal-hal yang sepatutnya diperhatikan dan dilakukan oleh kita selaku seorang perempuan. Poin-poin tersebut merupakan poin utama yang jika seorang perempuan sudah bisa melaksanakannya dengan baik maka ketiga poin tersebut bisa mendorong sikap-sikap baik lainnya terwujud. Jika seorang perempuan telah menutup aurat secara sempurna dan sesuai syariat, memelihara rasa malunya, dan menjaga kehormatannya maka ia akan senantiasa baik dalam berperilaku di dalam kehidupan sehari-harinya.

Teruntuk saudariku, para perempuan calon madrasah terbaik. Jagalah diri kita, pantaskan diri kita demi mempersiapkan bangsa yang jauh lebih baik lagi. Diri kita dan perilaku kita akan menentukan, apakah kita akan menjadi perempuan pembangun ataukah sebagai penghancur bangsa? Pilihan ada padamu ^_^

Iklan

Tambah ilmunya, bukan koleksi jilbabnya

notestoself.jpg

Sebuah catatan untuk diri yang mulai tergoda, atau bahkan telah tergoda.

Diawal menapaki jalan perubahan, hijrah.

Mengubah gaya berpakaian, satu persatu, tahap demi tahap.

Tak menyangkal, hijab syar’i itu harganya 2-3 kali lipat dari kerudung tipis yang pernah kupakai. Tak menampik juga, perlu menyisihkan recehan dari sisa uang jajan untuk bisa membeli 1-2 kerudung syar’i saat itu.

Diawal-awal masa hijrah, wajar saat muncul keinginan untuk menambah membeli setidaknya 1 untuk ganti, karena rasanya kurang nyaman memakai kerudung yang sama setiap hari, atau harus curingke (cuci-kering-pake).

Ya, wajar rasanya saat itu.

Namun kini, setelah beberapa tahun berjalan. Alhamdulillah senang sekali rasanya melihat banyaknya yang menyediakan kerudung/jilbab yang syar’i baik di olshop maupun di toko-toko. Meski memang masih banyak yang hanya sekedar melabelkan kata syar’i dan menggunakan bahan yang lebih panjang namun nyatanya belum memenuhi kriteria hijab yang syar’i.

Semakin kesini aku mulai mengamati yang terjadi pada akhwat-akhwat hijaber, yang mungkin salah satunya adalah aku sendiri. Setelah berhijab , merasa telah syar’i, bangga dengan hijabnya. Sudah mulai kendur kajiannya. Sudah mulai lebih suka berlama-lama di dunia maya dibandingkan di taman-taman surgaNya. Lebih sering ‘mantengin’ trend warna dan gaya hijab yang baru, dibandingkan menyelami kisah-kisah Rasulullah shalaulohu’alayhi wasalam beserta para sahabat dan shahabiyah terdahulu.

Semakin kesini, model-model jijab semakin beragam. Hiasannya semakin bermacam-macam. Coraknya semakin menarik perhatian. Warnanya kian mencolok. Begitupun dengan niqab/cadar. Bahkan tak jarang dijumpai harga jilbab yang sangat melangit karena mewahnya hiasan yang ada padanya. Hilanglah sudah kesederhanaan. Beralihlah pakaian menjadi hiasan dan pakaian kebanggan.

”Barang siapa mengenakan pakaian syuhroh (untuk mencari popularitas) di dunia, niscaya Allah mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)

Semakin kesini, mulai goyah untuk tetap mempertahankan kesederhanaan. Mulai menggebu-gebu untuk membeli banyak koleksi hijab model terbaru. Fitrahnya wanita memang senang melihat yang indah, dan senang berbelanja. Namun, jika itu hanya untuk menambah koleksi, apakah harus? jika itu hanya untuk membuat diri kita semakin cantik, apakah perlu?

Semakin kesini, yuk semakin pertambah ilmu. Karena yang akan menyelamatkan kita bukanlah seberapa banyak koleksi hijab kita, melainkan selurus apa niatan kita untuk berhijab. Bukan seberapa tinggi kualitas pakaian kita, melainkan seberapa tinggi kualitas amalan kita. Dan setiap amalan yang berkualitas tentunya butuh ilmu untuk mencapainya selain daripada niatan kita.

catatan dan teguran untuk diri. Yang mulai lupa dan mulai tergoda.

Ukhti, tambah terus ilmunya bukan koleksi jilbabnya 🙂

 

wismaQQ 11022016 | @rositadewiha

 

Maaf, jika aku tak ‘asik’ lagi..

masalalu.jpg

Siang tadi ditengah kesibukan kami di dapur, ibuku mulai bercerita. Berkisah tak sengaja tentang respon-respon yang ibuku dapat dari teman-teman lamanya ketika bertemu dengan ibuku sekarang.

Dari obrolan itu aku makin menyadari bahwa ‘berubah’ itu bukanlah hal yang mudah. Memperbaiki diri atau kerap disebut ‘hijrah’ itu bukan sebuah perkara yang gampang, tak bisa dilalui sekejap mata, mustahil jika perjalannannya tanpa duka cita dan airmata.

Setelah obrolan itu aku jadi teringat pada diriku sendiri. Ya, dulu bahkan sampai saat ini pun masih mengalami hal yang seperti ibuku alami. Mungkin bagi orang-orang yang mengenal kita selepas hijrah, perubahan apapun pada diri kita tidak akan terlalu mencolok bagi mereka, namun bagi mereka yang mengenal kita jauh lebih dulu bahkan jauh sebelum hijrah, tentu ketika bertemu lagi dengan mereka akan menjadi suatu hal yang aneh. Bahkan tak jarang ejekan, dan guyonan-guyonan terutama atas apa yang kita rubah dari penampilan selepas hijrah.

“Disitulah tantangannya..”

“Disitulah ujiannya..” begitulah ibuku mengakhiri pembicaraan kami.

Aku jadi teringat kembali respon-respon kawan-kawan lamaku. Ada yang terdiam, terkejut, heboh sendiri, dan berbagai respon yang sudah mulai aku anggap biasa. Apalagi ketika awal-awal mencoba untuk merubah kebiasaan lama. Saat mulai mengganti semua pakaian, mulai menutupi apa yang seharusnya ditutupi. Mulai menghindari lawan jenis, memberi jarak dan batas dengan mereka. Mulai ‘memberanikan diri’ tidak bersalaman dengan lelaki yang bukan mahram. Mulai mengganti kebiasaan-kebiasaan lama dengan kebiasaan baru yang lebih bermanfaat.

Tak jarang ada respon yang mengatakan bahwa aku sudah tak asik lagi. Sudah tak mau nongkrong, dance, bermain music sambil nyanyi-nyanyi bareng,   ngeceng sana-sini, berpose, ‘menghabisi’ teman yang ulang tahun, merayakan ulang tahun, bahkan untuk sekedar mengucapkan selamat ulang tahun meskipun dengan kata lain semacam “Barakallahu fii umrik”.

Ya, maafkan aku kawan. Aku sudah tak se-asik dulu lagi.

Aku sudah tak se-asik apa yang kalian masih anggap ‘asik’

Karena apa yang aku anggap ‘asik’ dulu, tak pernah benar-benar asik

Semuanya hanyalah kesenangan yang semu

Hanyalah kebahagiaan yang sejatinya merupakan hal yang begitu amat disesalkan pernah dilakukan

 

Teruntuk semua sahabatku, mari temaniku.

Kita saling menguatkan kembali, kita saling menyemangati kembali.

di jalan yang lebih Allah Subhanahuwata’ala ridhoi 🙂

 

Salam.

Rumah, 2 Januari 2015 | © rositadewiha

Tak ingin mencintai dalam ‘Diam’

Flirty-Fleurs-Red-Rose-Color-Study.jpg

Aku selalu bertanya pada diri, apa yang akan aku lakukan jika aku jatuh cinta?

Jatuh cinta?

Ya, tepatnya menjatuhkan cinta padamu.

Kamu, iya kamu ! Kamu yang aku pun tak tahu siapa.

 

Bagiku jatuh cinta itu adalah sunatullah.

Fitrahnya kita sebagai manusia.

Hadirnya tanpa ada rencana, disadari ketika ia mulai mengusik ketenangan jiwa.

Apakah kamu merasakan yang sama?

 

Jika aku jatuh cinta, aku ingin jatuh cinta itu sebagai hal yang wajar

Bukan suatu hal yang perlu dibesar-besarkan

Apalagi untuk disebar-sebarkan

Jika sama-sama siap halalkan, jika tidak maka lepaskan.

 

Ketika sebagian orang mengenalkanku pada istilah cinta dalam diam

Rasanya aku tak ingin mencintai dalam diam, tak ingin terjebak istilah cinta dalam diam jika itu hanya akan membawaku pada ketidakridhaanNya.

Bagi sebagian orang, istilah mencintai dalam diam itu keren.

Mencintai tanpa diketahui oleh orang yang ia cintai, dipendam dalam-dalam.

Bahkan sebagian mengutarakan bahwa cinta dalam diam yang mereka anut itu hasil dari meneladani kisah cinta sayidah Fatimah dengan sayidina Ali Radhiyallahuanhuma.

Ya, mencintai dalam diam dengan berbagai versi tergantung sampai titik mana seseorang faham akan hal itu.

Namun lambat laun jika diperhatikan, cinta dalam diam yang sebagian orang utarakan itu tak  sejalan bahkan bertolak belakang dengan apa yang dijalani oleh putri dan menantu sekaligus sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam

Sebagian orang yang menyatakan pada dirinya sebagai aktivis ‘cinta dalam diam’ , menurutku hanya meminjam istilah itu saja, sedangkan dalam praktiknya cinta dalam diam yang ia jalankan memang benar-benar diam !!

Ya, diam-diam ngestalking akun sosial media si dia ( orang yang disuka)

Diam-diam mengisi waktu luangnya dengan khayalan dan lamunan tentang si dia.

Diam – diam mencari tahu berbagai hal tentang si dia.

Diam- diam cari cara untuk ketemu sama si dia.

Diam-diam mulai menyimpan kontak si dia.

Diam – diam mulai semakin menggila dengan cintanya.

 

Ya, jika dilihat dari caranya  memang tengah mencintai dalam diam.

Berusaha agar orang yang disuka tak tahu atas perasaannya.

Berusaha menahan luapan perasaannya dan menjaganya agar tidak pacaran

Namun, dengan disadari atau tidak ia pun diam- diam tengah menumpuk dosa !

Sadarkah kita?

 

“Telah ditentukan atas setiap anak Adam bagiannya dari perbuatan zina, ia pasti melakukannya. Zina kedua mata adalah dengan memandang, zina kedua telinga adalah dengan mendengarkan, zina lisan adalah dengan berbicara, zina kedua tangan adalah dengan menggenggam, dan zina kedua kaki adalah dengan melangkah, sedangkan hati berkeinginan dan berandai-andai, dan kemaluan mempraktekkan keinginan untuk berzina itu atau menolaknya”. [Muttafaqun ‘alaih]

 

Maka, tak ada pilihan lain jika kita jatuh cinta : Halalkan , jika tidak maka lupakan !!

Belum pernah terlihat, ada obat yg lebih mujarab bagi dua orang yg sedang jatuh cinta, selain menikah.” – Thabrani

 

Cimahi,28 Desember 2015 | © rositadewiha

 

 

Nasehat untukku untukmu

Seringkali kudengar bahwa nikmat setelah iman itu ialah memiliki sahabat-sahabat yang peduli. Ups lebih tepatnya tak sekedar peduli namun senantiasa mengingatkan kita pada Allah, merangkul kita untuk bisa menapaki jalanNya, dan senantiasa menguatkan kita untuk istiqamah dalam menapakinya.

Dan Alhamdulillahiladzi bini’mattihi tatimusshalihat Allah mengirimkan mereka-mereka yang peduli dan kuanggap sebagai sahabat. Mereka, ya aku menyebuutnya mereka karena aku merasa mmiliki sahabat yang tak terhingga. Orang bilang sahabat itu yang telah lama kita kenal dan bersama-sama dengan kita dalam waktu yang cukup lama. Namun bagiku siapapun yang berani mengingatkanku, menegurku dan mengajakku pada kebaiakn ialah sahabatku. Karena merekalah yang telah mau meluangkan waktunya untuk itu. Dan yang pasti mereka itu peduli. Sahabat bagiku banyak.Mungkin termasuk kamu yang tengah membaca ini. ^_^

Teruntukmu sahabatku. Terimakasih telah mencintaiku. Terimakasih telah mau mengingatkanku, menegurku dan mengajakku pada kebaikan meninggalkan semua kesia-siaan.

Ya, mungkin semua pun sepakat bahwa hidayah itu memang datangnya dari Allah. Hidayah itu memang kita yang mencarinya, meminta dan memohon padaNya. Namun tak dapat dipungkiri juga bahwa ada orang-orang yang Allah pilih untuk menunjuki kita mencapai hidayah itu. Dan mereka itulah yang kusebut sebagai sahabat hadiah dari Allah.

Dari beberapa obrolan dengan sahabat-sahabatku, tak jarang kudapati kisah hijrah yang berawal dari mengenal seseorang. Seseorang itu bisa teman,guru,saudara, atau bahkan oranglain yang baru ditemui. Berbagai macam kisah memang. Namun intinya semua sama, Allah megirimkan orang-orang itu untuk mengarahkan kita pada hidayah yang tengah kita cari.

Untuk kalian yang pernah Allah kirimkan untuk membantu proses hijrah seseorang . Kali ini ijinkanku (yang pernah kalian bantu, nasehati, tegur maupun kalian ajak pada kebaikan) untuk membalas kebaikan kalian semampuku lewat tulisan ini.

Dulu kalian telah menyempatkan banyak waktu kalian untuk sekedar menegur ataupun mengingatkanku ketika lupa. Kini ijinkan aku membalas semua kebaikan itu.

Sahabatku. Mungkin kita sudah bosan dengan nasehat para asatidz mengenai dua perkara yang kuketahui lewat kebaikanmu. Ya, perkara itu ialah tentang hubungan interaksi dan perilaku kita dalam ber-sosial media.

Sahabatku. Darimulah aku tahu bahwa tak ada hubungan cinta yang diridhoi antara sepasang insan selain pernikahan. Melaluimu Allah menegurku untuk senantiasa menjaga interaksiku dengan lawan jenis dan semua orang yang bukan mahramku. Dirimu pula lah yang senantiasa mengingatkan dan menguatkan untuk tak menceburkan diri ke dalam lautan asmara yang tak dibenarkan dalam ajaranNya bahkan tak diakui oleh negara (baca : pacaran).

Sahabatku. Teguranmu itu sungguh mempan. Nasehatmu terasa masih terngiang saat aku masih sering mengupload potretku. Kini semua wajahku telah aku usahakan untuk sirna dari semua sudut dunia maya. Aku pun tengah berusaha untuk tidak mengupload meskipun tampak belakang, sekedar kaki,tangan, atau anggota badan yang lainnya. Keberanian itu tumbuh setelah engkau menceritakan tentang bagaimana bahayanya dan apa saja mudharatnya ketika aku masih mengunggah foto-foto diriku di sosial media.

Aku sungguh berterimakasih pada Allah karena telah menghadirkanmu dalam masa perbaikan ini. Namun, beberapa waktu berlalu aku mendapati sebagian dari kalian mulai bangga dengan status yang tak pernah diakui negara sekalipun itu. Komentar-komentar kalian begitu asyik. Status kalian bak bunga yang banyak dihinggapi para kumbang. Dan mulai kutemui potretmu di beberapa sudut dunia maya, tempat yang sempat kau ingatkan padaku penuh dengan mudharatnya jika wajahku terpampang apalagi berseliweran di sana.

Ah, sahabatku. Memang mudah mengingatkan oranglain. Mudah memang menasehati oranglain. Mudah sungguh mudah sekali mengintropeksi oranglain. Sedangkan mengintropeksi diri itu sulit. Sungguh sulit kala nafsu terus menerus mengelabui. Begitupun denganku saat ini yang mungkin tengah berniat mengingatkan diriku pula namun secara tak sadar aku tengah mengintropeksi dirimu, bukan hanya mengintropeksi diriku sendiri lagi. Namun semoga ini bisa menjadi nasehat untukku, untukmu dan untuk kita semua siapapun yang membaca tulisan ini.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran” (QS.Al-Asr [103]: 1-3)

Nasehat. Sebuah hal yang tak sedikit orang enggan mendengarnya. Dan tak sedikit pula yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya.

Kita mungkin akan dengan mudahnya menasehati oranglain. Ya, berbagai macam bentuk retorika terlontar dari lisan kita dengan lancarnya. Memberikan teguran lantas menasehati oranglain atas sikap,perkataan atau apapun yang kita ketahui bahwa itu tidak dibenarkan,salah,keliru apalagi ketika hal itu bertentangan dengan syariat.

Namun terkadang ada yang kita lupakan. Baik ketika kita diposisi yang dinasehati ataupun sebagai penasehat.

Saat kita tengah dinasehati terkadang nafsu mendorong kita untuk berkata “Apa sih, sok suci, kayak udah bener aja sendirinya…bla..bla..bla”. Ssstt meskipun hanya terlintas dipikiran dan tak kita utarakan, hati-hati nih jangan-jangan kita sudah menjadi orang yang merasa sudah baik dan tak perlu lagi dinasehati oranglain. Pada kondisi seperti itu, iyakah kita sudah benar-benar menjadi orang yang lebih baik? Ataukah mungkin sifat sombong telah merajai hati hingga tak bisa menerima kebaikan? Naudzubillah.

Sedangkan, saat kita melihat oranglain salah (menurut pandangan kita). Jangan serta merta menjudge ia salah dan menasehatinya di depan khalayak umum. Meskipun di sosial media, itu kan sama halnya dengan di depan publik. Hati-hati yuk, jika kita menasehati di depan umum itu sejatinya bukan menasehati melainkan mempermalukan orang yang hendak kita beri tahu atau ingatkan atas kehilafannya.

Saling menasehati itu ternyata penting dan harus ya, karena rasanya kita tak akan mudah memperbaiki diri kita tanpa kritik atau nasehat dari orang lain. Namun dalam menasehati pun kita perlu ingat selalu, bahwa nasehat itu bukan hanya untuk oranglain melainkan untuk kita pribadi. Jangan sampai kita menasehati dan mengajak oranglain pada kebaikan namun kita sendiri tak melaksanakan apa yang kita nasehatkan.

Manusia itu tempatnya salah dan lupa. Maka jangan lelah untuk saling bertukar kebaikan dengan cara saling mengingatkan untuk kebaikan ^_^

Pondok Khadijah, 21 Dzulqa’dah 1436 H

Niat, masihkah engkau lurus?

green roses“Nilai suatu amalan itu tergantung dari niatnya”

Betapa sering saya, kamu dan kita semua mendengar kalimat familiar itu bukan? Ya, Niat. Lagi-lagi masalah niat. Lagi-lagi urusan niat. Suatu hal yang teramat penting dan utama , begitupun bagi saya pribadi.

Lalu Niat itu apa sih? Mengapa ia amat penting? Dan mengapa ia bisa menjadi tolak ukur dalam menilai suatu amalan?

Niat (Arab: نية Niyyat) adalah keinginan dalam hati untuk melakukan suatu tindakan yang ditujukan hanya kepada Allah. Secara bahasa, orang Arab menggunakan kata-kata niat dalam arti ‘sengaja’. Al- Khathabi mengatakan, “Niat adalah bermaksud untuk mengerjakan sesuatu dengan hati dan menjatuhkan pilihan untuk melakukan hal tersebut. Namun ada juga yang berpendapat bahwa niat adalah tekad bulat hati. Baca Selengkapnya tentang niat

Ketika kita melakukan segala sesuatu, tentu dari awal kita sudah ingin meniatkan semuanya Lillahitaala agar bernilai ibadah bukan? Namun realitanya terkadang kita lupa akan niat awal dan lambat laun niat kita secara disadari ataupun tidak telah bergeser, bukan lagi mengharap ridho dan penilaian Allah semata, namun sudah jadi ingin dinilai mahluk !!

Hmmm, niat itu mudah sekali bergeser ya jika kita tidak selalu memperbaharui niatan kita. Apalagi ketika dihadapkan dengan ujian dunia berupa kesenangan, kenikmatan dan segala macamnya yang membuat kita terbuai lantas terlena, ujung-ujungnya melakukan segala sesuatunya karena ingin dipuji, dihargai, dan berakhir dengan sikap sombong serta riya. Naudzubillah.

Bagi saya, memperbaharui niat itu sungguh penting. Dan untuk bisa memperbaharui niat tentunya kita harus rajin memeriksa niatan kita dong. Tapi yang saya rasakan, tak mudah mengenali niat mana yang masih tetap dan mana yang sudah bergeser. Namun hal itu bukan jadi alasan kita untuk membiarkan niat kita bergeser bahkan mungkin berubah total atau bahkan berantakan.

Tidak ada yang paling berat untuk ku obati daripada niatku, karena ia selalu berubah-ubah” –Sufyan Ats Suari–

Ah, ternyata memang menjaga niat agar tetap sama itu tak mudah. Namun bukan berarti kita tidak dapat melakukannya bukan? Niat itu memang hanya kita dan Allah saja yang tahu. Kita bisa saja bilang niat kita Lillahitaala padahal nyatanya kita masih memburu perhatian dan penilaian mahluk. Ya, lagi-lagi masalah niat. Semuanya tergantung kita, lurus atau tidaknya sebuah niat. Tergantung tujuan kita pula. Jika niatan itu Lillahitaala, appaun penilaian dan komentar manusia kita akan tetap semangat melakukannya.

Yuk saling mengingatkan, agar tetap bisa menjaga dan memperbaharui niatan kita. Karena niat itu mudah sekali berubah. Jangan lelah untuk terus memperbaiki niat kita 🙂

Akhlakmu Mengubah Duniaku

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya diantara mereka” (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Trimidzi, dan Al-Hakim)

Sempat saya mendengar seseorang yang anti Islam menjadi tertarik dengan Islam hanya karena diperlakukan begitu baik oleh seorang muslim. Tak jarang pula saya mendengar seseorang yang awalnya anti sunnah menjadi ahlus sunnah hanya karena tersentuh oleh sikap orang-orang yang mungkin saja awalnya ia cibir,caci,maki namun tetap berlaku baik terhadapnya. Ya, dan sering pula saya mendapati seseorang yang menjadi anti pada Islam apalagi sunnah hanya karena segelintir dari mereka yang tidak menunjukan perilaku yang baik. Eksklusif, so’ suci, angkuh, merasa diri paling sholeh/ah, tidak pernah tersenyum, menyapa apalagi mengucapkan salam.

“Perbaiki terus akhlak kita!”

Betapa sering nasehat itu terlontar dari para asatidz di setiap sela-sela kajiannya. Akhlak !. Ya, hal yang mungkin selama ini sering terlupakan oleh saya pribadi. Betapa lupanya diri bahwa percuma rasanya kita mengaji, belajar ilmu agama, mengkaji kitab-kitab para ulama, mempelajari sirah Nabi, mengambil faedah dari para generasi terbaik, namun akhlak kita masih tak ada bedanya dengan akhlak kita sebelum itu. Apa yang didapat selama ini? Menghadiri kajian-kajian, mendengarkan nasehat-nasehat para ulama namun lisan kita masih melukai, sikap kita masih kasar, perangai kita masih buruk. Bahkan dihadapan saudara kita sesama muslim.

Malu rasanya ketika akhlak tak kunjung lebih baik, masih sama saja bahkan mungkin menjadi lebih buruk. Padahal tak dapat dipungkiri, jalan yang kini ditempuh pun berawal dari akhlak-akhlak mempesona yang mengantarkan diri hingga dapat menggapai sebuah pencerahan hidayah. Ya, tidak jarang kudapati seseorang yang memiliki akhlak baik dapat seketika mengubah dunia seseorang. Akhlak baik yang ditunjukan dengan kebaikan-kebaikan yang tulus tanpa pamrih itu telah berhasil menyentuh hati-hati yang awalnya keras sekalipun. Dan telah berhasil memupuskan pikiran orang-orang yang anti dan takut pada awalnya menjadi tertarik dan merubah pandangan mereka yang semula buruk.

Ah, jika membahas tentang akhlak lagi-lagi tak ada satupun yang tidak mengenal sosok yang memiliki akhlak paling mulia. Ya, siapalagi beliau jika bukan Rasulullah ﷺ. Beliau ﷺ adalah manusia yang benar-benar memiliki akhlak yang paling menawan dan sempurna. Jadi, sedih rasanya ketika lisan kerap dengan lancarnya berucap mencintai Allah dan Rasul-Nya namun akhlak tak sedikitpun kita meneladi akhlak mulia Rasulullah ﷺ.

Tak jarang diri menjadi merasa paling baik. Mulai angkuh hingga malas sekali untuk sekedar memberikan senyuman saja dihadapan oranglain terutama kepada orang yang kita anggap tak jauh lebih baik dari kita. Ketika Hijab mulai panjang, pakaian sesuai syari’at lalu dengan enaknya memandang orang yang belum demikian dan masih belajar dengan tatapan penuh dari ujung kepala hingga ujung kakinya. Membeda-bedakan perlakuan kepada teman yang sudah sama-sama ‘ngaji’ dan kepada yang belum.

Wahai diri. Mengapa berlaku demikian? Apa yang kau pikirkan hingga merasa akhlak baikmu hanya untuk orang-orang tertentu saja? Hanya tersenyum, menyapa, dan memberi salam pada mereka yang sudah ‘mengaji’ saja? Apakah saudaramu itu hanya mereka yang sudah mulai faham saja? Tidak ya ukhti !!

Akhlak baik kita itu untuk kita tunjukan pada semua orang. Bukan hanya ditunjukan namun kita praktekan. Karena Rasulullah ﷺ pun tidak pernah membeda-bedakan. Bahkan dalam sebuah kisah ( saya belum tahu shahih atau tidaknya) ketika akhlak mulia Rasulullah ﷺ kepada seorang Yahudi buta yang setiap hari mencaci beliau ﷺ. Pun dengan kisah akhlak Rasulullah ﷺ kepada seorang yang bahkan meludahi beliau dan bukti-bukti akhlak mulia lainnya yang seringkali kita dengar.

Wahai diri. Bagaimana mungkin engkau bisa merangkul orang-orang jika akhlakmu masih membuat mereka tak suka. Bukankah engkau ingin mengubah persepsi buruk mereka ? bukankah engkau ingin menghapus bersih label ‘eksklusif’ yang dicapkan orang-orang? Lalu, apa yang masih menghalangimu untuk menunjukan akhlak yang baik pada semua orang?

~ Sebuah hikmah dari obrolan singkat

Kortim Salman, 22 syawal 1436 H