Percuma Kuliah Jika Jadi Ibu Rumah Tangga ?

agree

Percuma dong kuliah, kalau ujungnya jadi ibu rumah tangga?

Tak jarang kudapati perkataan seperti itu dari segelintir orang entah itu dari yang masih punya ikatan keluarga maupun dari tetangga ataupun masyarakat yang tak jarang bertanya rencana kerja pasca kuliah ketika saya pulang ke rumah orang tua di desa.

Dari segelintir orang itu, sedikitnya saya dapat mengambil kesimpulan, bahwa mayoritas masyarakat di desa saya memang masih memiliki pemahaman bahwa ketika seorang perempuan melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi itu tandanya ia adalah seorang calon pekerja,karyawan, atau bisa disebut seorang calon wanita karir.

Saya tidak  menyalahkan ataupun ingin mencibir pemikiran itu. Bagi saya setiap pemikiran pasti beralasan. Begitupun dengan pemikiran mayoritas masyarakat yang pernah saya temui, kebanyakan berpikir bahwa perguruan tinggi akan menghantarkan seseorang menjadi seseorang yang memiliki kehidupan yang lebih baik, dan biasanya ditandai dengan pekerjaan yang ‘baik’ menurut pandangan kebanyakan dari mereka.

Sedangkan bagi saya, mendapatkan pekerjaan ataupun gaji yang menjanjikan pasca lulus kuliah itu bukanlah parameter kesuksesan seseorang. Dan jujur saja semua hal itu bukanlah yang menjadi cita-cita bagi saya. Apalagi saya adalah seorang perempuan, calon istri dan calon ibu yang otomatis akan menjadi calon madrasah peradaban generasi mendatang. Insya Allah.

Jujur saja, ketika mendapatkan pertanyaan mengenai rencana karir baik dari teman maupun dari dosen, yang pertama melintas dipikiran untuk jadi jawaban adalah “menjadi seorang istri dan ibu yang keren”. 😀

Nah lho, lalu kamu gak akan kerja?

Begitulah kira-kira respon yang biasa didapati jika saya menyampaikan cita-cita saya itu. Bagi saya keinginan itu lebih membuat semangat saya terpacu untuk terus berusaha sebaik mungkin, ketimbang keinginan untuk mendapatkan pekerjaan. Saya tidak berpikir akan bekerja apalagi jika sudah menjadi pendamping seseorang kelak. Namun, ya itu hanya keinginan. Tapi kalaupun setelah kuliah harus bekerja ya mau tidak mau saya akan bekerja, tapi mungkin saya akan lebih memilih bekerja di usaha saya sendiri (berwirausaha) ketimbang harus bekerja di luar rumah. Tapi ya itu baru sekedar rencana dan keinginan. Kenyataannya? entahlah, kuliah saja belum selesai  😀

Terus ngapain kamu kuliah ?

Hmm karena saya mau “menjadi seorang istri dan ibu yang keren”. hehe ^^v

Ya iya dong, saya butuh banyak ilmu untuk menjadi seorang pendamping yang keren. Begitupun dengan menjadi seorang ibu yang keren, tentunya saya harus punya banyak ilmu untuk menciptakan madrasah terbaik di keluarga saya kelak.

Bagi saya, bangku kuliah itu bukan semata untuk mendapatkan suatu gelar. Atau jika hanya untuk menduduki posisi pekerjaan tertentu yang diidamkan kebanyakan orang. Apalagi kalau cuma sekedar buat terlihat ‘keren’. Bukan untuk itu semua.

Bagi saya, saya bersyukur bisa sampai ke bangku kuliah. Dengan pengorbanan orangtua saya yang bukan keluarga ‘kaya raya’, dengan prestasi saya yang biasa saja, dan dengan universitas yang tak banyak dikenal orang. Tapi dari itu semua, saya banyak belajar dan banyak merasakan perubahan yang mungkin tidak akan saya dapatkan jika saya tidak ‘memaksakan diri’ untuk kuliah.

Kuliah bagi saya adalah proses membentuk pola pikir. Sebuah proses untuk bisa menjadi orang yang tidak berpikiran sempit dan kaku. Sebuah tempat dimana kita bisa banyak belajar berbagai hal. Belajar berbaur, mengenal karakter, belajar bersosialisasi, belajar bagaimana bersikap menghadapi berbagai perbedaan, suku, ras dan agama, dan tentunya belajar untuk terus bersyukur karena tak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Menurut saya pribadi, saya tidak sependapat jika ada yang mengatakan bahwa ‘percuma’ kuliah jika ujung-ujungnya jadi ibu rumah tangga. Percuma kuliah jika lulus kuliah cuma jadi pengangguran saja, setiap hari cuma jadi penghuni kasur,dapur dan sumur. Hmmm tidak ada yang percuma, semuanya pasti ada manfaatnya.

Ilmu yang kita dapat, berbagai hal yang kita pelajari selama kuliah tentunya akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kita kelak, meski bukan untuk sebuah ‘pekerjaan’ yang mengharuskan kita duduk di kantor dan meninggalkan rumah, sebaik-baiknya tempat bagi wanita.

Rumah adalah sebaik-baiknya tempat bagi wanita? Lalu wanita yang bekerja itu bagaimana? Saya tidak mengatakan bekerja di luar rumah bagi seorang perempuan itu buruk dan tercela. Tidak salah jika keadaan mengharuskan sorang perempuan bekerja di luar rumah, selama ia bisa menjaga izzah dan iffahnya dan tentunya mendapatkan ijin dan ridho dari suaminya. Sedangkan bagi saya pribadi, sepertinya bekerja di rumah itu lebih asiiik ^_^

Tapi, tetap saja semua kembali pada diri kita masing-masing. Semuanya kembali pada pilihan kita, dan jangan kita lupa bahwa setiap pilihan punya konsekuensi yang harus kita terima.

Jangan malu jika kita bercita-cita jadi ibu rumah tangga. Menjadi ibu rumah tangga itu keren lho. Dan jangan lagi-lagi kita punya pemikiran bahwa percuma sekolah tinggi jika ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga. Hanya jadi ‘pelayan’ suami. Jalani semuanya apapun dengan niat untuk beribadah dan meraih ridhoNya , insyaa Allah apapun pilihannya akan bernilai pahala ^^

Mari luruskan niat. Senantiasa memperbaiki diri. Jangan pernah merasa paling baik sendiri 🙂

Rumah, 21 Maret 2016 | @rositadewiha

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s