Perempuan, Pembangun ataukah Penghancur?

aa6d0b8f6f4e8b011ec6d94744123dc7

Menjadi seorang perempuan itu takdir dan juga amanah, namun untuk menjadi perempuan yang baik itu adalah sebuah pilihan. Ya, betapa sering kita mendengar bahwa perempuan itu bisa menjadi perhiasan dunia yang terbaik dan sebaliknya ia juga dapat menjadi sumber fitnah terburuk dan terbesar di dunia.

Perempuan, sosok yang teramat penting dan bersejarah bagi peradaban manusia. Darinya, lahirlah generasi-generasi penerus peradaban. Kita semua telah sepakat bahwa awal mula berkembangnya manusia itu bukan berawal dari berevolusinya kera hingga menjadi manusia, melainkan berawal dari penciptaan Adam as dan dikaruniakannya anak-anak lewat rahim seorang perempuan, yakni Hawa.

Terlahir sebagai seorang perempuan tentunya tidak mudah. Banyak halang rintang dan cobaan mengiringi pertumbuhannya. Begitupun dengan para orangtua kita, tidak mudah mendidik dan membesarkan seorang anak perempuan hingga bisa menjadi perempuan seutuhnya yang bisa menjadi perhiasan terbaik bagi orangtua dan sekitarnya.

Kita sebagai seorang perempuan tentunya menyadari bahwa dari kitalah potret masa depan peradaban terlihat. Dari kitalah, sebuah peradaban baru akan dimulai. Dan diri kitalah yang bisa menentukan baik buruknya masa depan suatu bangsa. Seperti yang seringkali kita dengar dari sebuah syair arab :“Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadtaha A’dadta Sya’ban Khoirul ‘Irq” yang artinya : seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa berakar kebaikan.

Lihatlah, betapa luar biasanya peran seorang perempuan dalam menentukan masa depan suatu bangsa. Dari kitalah bangsa yang baik itu bisa terwujud. Dan dari kita pula bangsa yang hancur itu berawal. Mengapa ? Hal itu karena seperti yang terdapat pada syair arab diatas, seorang perempuan itu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya, yang tak lain anak-anak itulah yang akan menjadi generasi penerus bangsa ini. Lalu, untuk menjadi sekolah pertama terbaik dan mencetak generasi-generasi terbaik apakah hanya cukup dengan menjadi seorang perempuan dan melahirkan banyak anak saja? Tentu tidak saudariku. Banyak hal yang harus kita siapkan dan lakukan. Banyak hal yang harus kita jaga dan pertahankan.

Agar kita dapat menjadi madrasah (sekolah) pertama terbaik, langkah pertama yang harus kita lakukan tentunya dengan memperbaiki diri kita. Memperbaiki diri bukan secara lahiriah saja melainkan memperbaiki diri dari segala aspek kehidupan. Mulai dari ruhiyah hingga kehidupan bersosial.

Dalam keseharian tentunya kita tak bisa terlepas dari kehidupan sosial. Dari kehidupan sosial itulah ujian bagi seorang perempuan banyak bermunculan. Dan sikap kitalah yang akan menentukan seperti apa kita dalam kehidupan bersosial. Menjadi perempuan yang baik ataukah sebaliknya, itu adalah pilihan kita. Diri kitalah yang menentukan bagaimana kita akan bersikap. Lalu, seperti apakah seharusnya seorang perempuan bersikap dalam kesehariannya?

Ada beberapa poin penting yang harus diketahui dan dilaksanakan oleh kita selaku perempuan mengenai bagaimana harusnya bersikap di dalam kehidupan sehari-harinya. Diantaranya :

  1. Menutup aurat secara sempurna (berpakaian syar’i)

Sebagai seorang perempuan muslim (muslimah) tentunya ini adalah kewajiban utama bagi kita untuk menutup aurat kita dimanapun kita berada. Menutup aurat secara sempurna sebagaimana perintah Allah SWT dalam Al-qur’an : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka“. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab: 59).

  1. Menjadikan rasa malu sebagai perisai iman.

Seorang perempuan sudah selayaknya memiliki rasa malu yang lebih tinggi, karena rasa malu itu dapat menjadi perisai imannya. Selain itu rasa malu yang ada pada diri perempuan dapat menjadikannya lebih mulia, karena rasa malu itu dapat mendatangkan kebaikan dan menjaga ia dari perbuatan yang buruk. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ : “Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37, dari ‘Imron bin Hushain.)

  1. Menjaga kehormatan

Seorang perempuan yang baik ialah perempuan yang dapat senantiasa menjaga kehormatannya. Dan menjaga kehormatan ini tentunya tidaklah mudah. Menjaga kehormatan bisa kita lakukan dengan memahami betul batasan-batasan komunikasi dan pergaulan kita dengan lawan jenis. Menjaga kehormatan ini merupakan poin penting dimana kualitas seorang perempuan dapat diukur darinya.

 

Poin yang diutarakan di atas merupakan sebagian dari hal-hal yang sepatutnya diperhatikan dan dilakukan oleh kita selaku seorang perempuan. Poin-poin tersebut merupakan poin utama yang jika seorang perempuan sudah bisa melaksanakannya dengan baik maka ketiga poin tersebut bisa mendorong sikap-sikap baik lainnya terwujud. Jika seorang perempuan telah menutup aurat secara sempurna dan sesuai syariat, memelihara rasa malunya, dan menjaga kehormatannya maka ia akan senantiasa baik dalam berperilaku di dalam kehidupan sehari-harinya.

Teruntuk saudariku, para perempuan calon madrasah terbaik. Jagalah diri kita, pantaskan diri kita demi mempersiapkan bangsa yang jauh lebih baik lagi. Diri kita dan perilaku kita akan menentukan, apakah kita akan menjadi perempuan pembangun ataukah sebagai penghancur bangsa? Pilihan ada padamu ^_^

Iklan

Satu pemikiran pada “Perempuan, Pembangun ataukah Penghancur?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s